BIJAK ONLINE (PADANG)-Mantan pengurus KONI Sumbar periode 2000-20014 dan 2004-2008, Nazar Kanin menilai, jika kepengurusan KONI Sumbar di bawah kepemimpin Plt Syaiful SH Mhum tidak memanfaatkan konsultan fisik asing Robert John Balard, sudah merupakan keputusan yang tepat.

Alasannya, selain pemborosan anggaran KONI, keberadaan konsultan asing tersebut juga menimbulkan kecemburuan di kalangan segenap pelatih lokal yang ada selama ini. Sebab si “bule” tersebut jasanya dibayar cukup mahal yakni dengan gaji, yang katanya  Rp 80 juta perbulan. Sedangkan pelatih lokal cuma dihargai rata-rata Rp 2 juta sebulan.

“Dengan mengontrak konsultan fisik dari orang asing tersebut, itu sama dengan merendahkan kemampuan pelatih lokal. Jadi, saya sangat setuju konsultan asing itu tidak dimanfaatkan, ” ungkap Nazar Kanin, yang juga Pimpinan Klinik Kesehatan KONI Sumbar, ketika berbincang-bincang dengan Bara Online Media (BOM), di sela-sela memantau tim tinju Sumbar latihan di GOR Beladiri H Agus Salim Padang, Selasa (3/5).

Menurutnya, pasca kegagalan prestasi olahraga Sumbar di PON XV Surabaya tahun 2000, Pemerintah Provinsi Sumbar bersama segenap pemerhati dan pembina olahraga langsung melakukan evaluasi total. Sejumlah cabor (cabang olahraga) yang dinilai mampu meraih medali emas di PON, diberikan perhatian khusus dengan nama “atlet super prioritas”. Sedangkan cabor yang memiliki potensi menyumbangkan medali diberi label “atlet prioritas”.

Hasilnya, dengan motto “Mambangkik Batang Tarandam” kala itu, Kontingen Sumbar akhirnya sukses memperbaiki prestasi di PON XVI Sumsel tahun 2004 dengan meraih enam medali emas dan menduduki peringkat 21. Saat itu, Ketua Harian KONI Sumbar dipimpin Kolonel (purn) Syahrial SH.

Empat tahun berikutnya, lanjut Nazar Kanin, prestasi olahraga Sumbar terus meningkat. Walaupun peningkatan medali emasnya cuma naik dua digit, yakni menjadi delapan medali emas saat PON XVII Kaltim tahun 2008 dan Sumbar menempati rangking ke-16.

“Nah, saat itu kita tidak pernah memakai jasa atau tenaga pelatih asing. Bisa kok kita bangkit dan berprestasi? Kalau pun di PON XVIII Riau tahun 2012 kita berhasil meraih 12 medali emas, saya rasa itu bukan karena pelatih asing. Tapi tetap karena dukungan kita bersama yang ingin prestasi olahraga Sumbar terus meningkat,” ucap sesepuh tinju Sumbar tersebut blak-blakan.

Ia menilai, tidak memakai konsultan fisik asal Australia itu sudah sangat tepat. Karena Robert John Balard telah gagal menciptakan atlet Sumbar yang berkualitas. Buktinya, tak satu pun atlet Sumbar yang lolos di Kejurnas Pra-PON 2015 lalu mampu meraih medali emas, kecuali di Porwil Bangka-Belitung.

“Dengan gagalnya atlet Sumbar meraih emas di Kejurnas Pra-PON, tentu membuat kita jadi khawatir menatap PON Jabar 2016. Nah, dari pada menghabiskan anggaran lagi untuk menggaji si bule itu dengan bayaran yang sangat mahal, kan lebih baik uangnya kita lipatgandakan untuk memotivasi atlet. Saya yakin, dengan kita memberikan perhatian total pada atlet maka hasilnya juga akan maksimal di PON nanti,” tutupnya. 

Secara terpisah, Robert John Balard kepada Tabloid Bijak menyebutkan, dirinya merasa dipermalukan. "Saya diminta untuk ikut mempersiapkan atlet PON Sumbar dan media tidak beretika merendahkan diri saya," katanya didampingi mantan Ketua KONI Sumbar, Syahrial Bakhtiar  yang mengunduran diri melalui handphone, Selasa, 3 Mei 2016 malam. (BOM)

google+

linkedin