SAYA yakin dan percaya, kalau tulisan ini akan membuat para pelatih yang sedang mempersiapkan atletnya untuk berlaga di PON Jabar, September 2016 mendatang, akan marah dan menyumpah serapah dengan tuduhan negatif ini. Tapi, ya rapopo lah.

Yang jelas tujuan tulisan ini lebih untuk mengingatkan dan sekaligus merubah sikap mental pelatih, agar bersikap dan bertindak profesional dalam membimbing atlet yang akan belaga di PON Jabar, demi harkat dan martabat Ranah Minang dikancah olahraga nasional.

Sebagai wartawan yang juga punya tanggungjawab moral terhadap prestasi atlet di PON, saya mendengar dan mendapatkan  informasi langsung dari beberapa atlet yang punya reputasi prestasi yang gemilang di kancah olahraga. 

Dari sekian banyak keluhan atet tersebut, terungkap kalau dana pembinaan berupa bonus yang diterimanya dari KONI Sumbar, selalu dipotong oleh sang pelatih. Yang ironisnya lagi pemotongan dana bonus tersebut, selain tanpa dasar yang jelas, juga pelatih tersebut mau menang sendiri, dengan memainkan peran dan kekuasaannya, seperti mengancam mencoret nama atlet dari kontingen, jika atlet itu lolos PON  by number dan bukan by name.

Kemudian, sang pelatih kebanyakan  selalu menepuk dada jika atletnya meraih medali emas dengan perkataan, yang menurut atlet menyakitkan, seperti;"Kalau ndak dek aden, ndak kabarasil waang doh." Sementara pelatih itu, berprilaku cuek atau acuh tapi butuh dengan keberadaan atlet dibawah binaannya. Kemudian, si atlet diperlakukan bagaikan "pengemis" atau budak yang harus taat dan patuh terhadap semua kebijakan pelatih, yang kadangkala tak menghargai hak azazi si atlet.

Yang menariknya lagi, sehari sebelum atlet akan bertanding, ada diantara pelatih yang wakuncar, atau menikmati kehidupan malam dengan berpesta pora dengan menegak alkohol di tempat maksiat. 

Selanjutnya di arena pertandingan, selalu saja intruksi pelatih tidak sesuai dengan keinginan si atlet. Bahkan, kadangkala ada juga pelatih yang tak mampu membaca situasi dan kondisi dan memberikan instruksi yang kalamak di paruik eee sae. 

KINI, mumpung lagi mempersiapkan diri dalam pelatprov, ada baiknya juga pimpinan cabang olahraga dan pengurus KONI Sumbar bersama dengan Ketua Satgas PON Sumbar, yang notabene dua orang profesor, agar masalah sikap dan prilaku negatif para pelatih ini, juga jadi kajian dan analisa ilmiah.

Kemudian, tanpa bermaksud menggurui, kalau sang pelatih tidak berlatangbelakang atlet berprestasi emas disaat mudanya dulu, ada baiknya juga ditambah jam terbangnya dengan pengetahuan psikologis, agar terjalin atau tercipta hubungan yang harmonis antara pelatih dan atlet. 

Yang tak kalah pentingnya, pelatih si atlet saat lolos pra-PON atau Porwil, dilatih oleh si polan dan saat mempersiapkan diri ke PON dilatih oleh si pulin, maka jangan sampai sang pelatih merusak mental atlet dengan berbagai gaya dan cara.

Rasanya, tak ada salahnya juga jika persoalan mental dan sikap, serta tindaktanduk para pelatih ini jadi kajian dua profoser yang diamanahi tugas sebagai satgas. Semoga. (penulis wartawan tabloidbijak dan padangpos.com).

google+

linkedin