BIJAK ONLINE (Padang)-Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sumatera Barat, Yulius Said mengaku prihatin dengan penurunan minat umat muslim di Ranah Minang untuk melaksanakan tadarus usai salat tarawih. Bahkan, berdasar pantauan DMI Sumatera Barat di lapangan, dari 4.838 masjid yang tersebar di 19 Kabupaten dan kota, tidak sampai 50 persen yang masih melaksanakan tadarus. Sebagian besar justru mengumandangkan ayat suci Al-Quran dengan memutar kaset.

 “Dulu selesai tarawih, ramai jamaah bertadarus. Sekarang ini, berdasar kunjungan kami ke lapangan sejak tahun 2009, sedikit sekali yang masih bertahan menggelar tadarus. Tidak sampai 50 persen,  itu pun diawal-awal Ramadan, kalau sudah tengah bulan tambah loyo. Selanjutnya garin yang putar kaset. Kaset nanti yang masuk surga,” ungkapnya usai menghadiri pembukaan tadarus dari masjid ke masjid yang diselenggarakan Radio Republik Indonesia (RRI) Padang di Masjid Raya Sumatera Barat, Selasa malam, 7 Juni 2016. 

Yulius Said berpendapat, kegiatan tadarus bukan sekedar membaca dan memperdengarkan wahyu-wahyu Allah, melainkan terdapat transfer ilmu dari ustad atau orang yang telah mahir membaca Al Quran pada anak-anak. Dengan kendurnya tadarus saat ini, berdampak terhadap kemampuan anak-anak sebagai generasi penerus dalam membaca, memahami, dan mengamalkan Al Quran dalam kehidupan sehari-hari.  

“Kekhawatirkan itu sudah terbukti. Banyak anak-anak yang masih salah dalam membaca Al Quran. Tapi yang tidak bisa justru lebih banyak. Kalau ada tadarus, ada yang membimbing anak-anak untuk meluruskan bacaannya. Mungkin anak-anak sudah ikut Taman Pendidikan Al Quran (TPA) tapi itu baru dasar,” tegasnya.

Berkurangnya pelaksanaan tadarus di masjid, menurut Yulius, harus menjadi perhatian seluruh pihak, tidak sekedar alim ulama, namun juga pengurus masjid, masyarakat, hingga pemerintah.

Terkait hal yang sama, Sekretaris Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Ali Asmar menilai perlu adanya kerja keras dari pemerintah di Kabupaten/Kota untuk mendorong pengurus masjid supaya menyusun program tadarus agar lebih diminati oleh anak-anak dan remaja. Selain itu, para orang tua juga perlu memberikan dukungan pada anak-anaknya supaya tidak bermalas-malasan mengaji dan mengkaji Al Quran sebagai tuntunan.

“Di masjid sudah ada TPA, tinggal bagaimana cara menarik santri TPA untuk ikut tadarus. Setiap Ramadan juga digelar pesantren untuk siswa, harusnya sekolah dan pengurus masjid juga bisa mengarahkan siswanya untuk ikut tadarus,” harapnya. (Humas Sumbar)

google+

linkedin