RASANYA masyarakat olahraga Sumatera Barat patut memuji dan mengucapkan salut kepada Mayjen (Purn) Tono Suratman yang secara kesatria mencabut surat KONI Pusat Nomor;1303/ORG/VI/2016 dengan prihal Pencabutan Surat KONI Pusat Nomor: 1082/ORG/VI/16 Tanggal 30 Mei 2016.  

Kenapa memuji dan salut? Karena surat yang ditandatanganinya tersebut, yang ditujukan kepada Prof Dr Syahrial Bahktiar MPd yang dialamatkan ke Jalan Sekora Pasir Putih Blok V Nomor 7 Tabing Padang, dibatalkannya, 29 Juni 2016 dan sekaligus, 30 Juni 2016 melalui SK KONI Pusat  menegaskan jabatan Plt Ketum KONI yang dijabat Syaiful SH Mhum.
Sebelumnya, Surat KONI Pusat tersebut, disebut-sebut sebagai  "senjata pamungkas" bagi Syahrial Bahktiar dan kroninya  untuk melengserkan Plt KONI Sumbar, Syaiful SH Mhum yang ditunjuknya sendiri melalui surat pengunduran diri dan meletakan jabatannya. 

Tapi kini apa mau dikata. Ketum KONI Pusat Mayjen TNI (Purn) Tono Suratman, tak hanya membantalkan suratnya sendiri, tetapi juga mengeluarkan surat pengesahan jabatan Plt KONI Sumbar yang diemban Syaiful SH Mhum.

Yang menariknya dari kisruh KONI Sumbar tersebut, bisa dikatakan telah terjadi "perang tanding" dengan mengatasnamakan azas legalitas dari KONI Pusat. Bahkan, surat jawaban dari KONI Pusat tersebut, berdasarkan surat dari Dr H Syahrial Bahktiar yang katanya melakukan pencopotan beberapa jabatan di jajaran KONI Sumbar periode 2013-2017 tersebut.

Contohnya, jabatan  Plt KONI Sumbar, Syiaful SH Mhum yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Ketua Umum 1 pada periode 2013-2017 tersebut, namanya dihilangkan, termasuk nama Sengaja Budi Syukur, dan  Fazril Ale yang dituduhnya berseberangan dengan dirinya.

Yang hebatnya, posisi jabatan Waketum 1 KONI Sumbar, versi Surat KONI Sumbar yang dikirimkan Dr H Syahrial Bakhtiar ke KONI Pusat tersebut, konon kabarnya mempercayai jabatan Waketum 1 kepada, Zainal Kasim dan Handriyanto tetap sebagai Waketum II.

Kini, azas legalitas dari KONI Pusat sudah digenggam Plt KONI Sumbar, Syaiful SH Mhum yang telah melakukan kerja keras dan bersungguh-sungguh mempersiapkan kontingen Ranah Minang Sumatera Barat untuk memperjuangkan harkat dan martabat insan olahraga Sumbar di kancah olahraga bergengsi nasional PON Jabar, 17 September 2016 mendatang.

Ada hal yang perlu juga menjadi bahasan bagi insan olahraga Sumatera Barat, dengan sikap dan kebijakan yang diambil Plt KONI Sumbar, Syaiful SH Mhum dalam mempersiapkan kontingen Sumbar di PON jabar.

Sebagai praktisi hukum yang juga telah malang melintang di kancah olahraga Sumbar, ternyata Syaiful SH Mhum berpedoman kepada prinsip menyerahkan suatu pekerjaan kepada ahlinya. Faktanya, Syaiful SH Mhum berhasil merangkul 4 orang profesor olahraga dan beberapa pakar olahraga lainnya untuk bekerjasama mempersiapkan atlet PON Sumbar.

Untuk  Tim Satgas PON dengan lokomotifnya dua profesor, yaksi Prof Syaripuddin dan Eri Berlian dan Tim Monitoring PON muncul nama Prof Gusril dan Prof Eddy Marheni.

Kemudian, Syaiful SH Mhum mengajak semua Ketum Pengprov Cabor untuk bekerjasama dalam mempersiapkan atlet. Bahkan untuk pembelian kebutuhan sarana atlet, dipercayakan semuanya kepada pimpinan cabor.

Kebijakannya yang sangat populer dikalangan atlet, dengan menambah jumlah atlet andalan dari 7 menjadi 71 orang dan ditingkatkannya uang saku para atlet tersebut. Yang lebih membanggakan bagi atlet dengan dicairkannya bonus atlet yang berhasil mendulang medali, baik di pra-PON maupun Porwil, sehingga atlet memasuki ulan suci ramadhan dan leberan sudah mendapatkan uang yang merupakan haknya.

KINI, biduak lalu, kiambang haruslah batauik dan semua insan olahraga harus menyamakan visi dan misinya menuju prestasi emas di PON Jawa Barat. Perbedaan pendapat dan titik pandang yang terjadi selama ini, sebaiknya dijadikan pelajaran dan diambil hikmahnya. Soialnya, bagaimanapun, keberhasilan di PON Jabar merupakan keberhasilan masyarakat Ranah Minang Sumatera Barat dan begitu sebaliknya tentang kegagalan. Semoga. (Penulis wartawan Tabloid Bijak dan Padangpos.com). 

google+

linkedin