MUSIBAH tanah longsor yang terjadi di Kabupaten Solok pada Kamis dini hari lalu, membuat duka yang mendalam bagi seluruh masyarakat Kabupaten dengan penduduk sekitar 400 ratus ribu jiwa itu. Pada waktu yang bersamaan, hampir seluruh nagari di Kabupaten dengan julukan penghasil bareh tanamo itu juga dilanda musibah angin kencang yang diawali dengan gempa berkekuatan sedang yang pusatnya terjadi di Provinsi Bengkulu.

Langit Solok tampak kelam. Angin kencang disertai hujan badai, melanda kampung yang dikenal dengan keindahan alam dan juga Wisata Danaunya ini. Sayangnya, negeri indah dengan berpenduduk yang mayoritas bekerja sebagai petani itu, diporak porandakan oleh musibah angin kencang yang menimpa hampir seluruh kecamatan  dan juga musibah tanah langsor yang terjadi di Jorong Lubuk Selasih, nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang. Dalam sekejap, Kabupaten Solok langsung berduka, karena musibah silih berganti terjadi, mulai dari kecelakaan lalulintas akhir Agustus 2016 yang merengut empat nyawa di nagari Koto Gadang Guguk, warga yang terbakar di atas kendaraan di Salayo, hingga longsor dan musibah angin kencang yang merusak ribuan rumah dan lahan pertanian masyarakat hampir si setiap nagari. 

Pemerintah, TNI, Polri, Wartawan, LSM dan swasta tampak bersatu padu datang membantu mengevakuasi daerah yang dilanda bencana ini. Bahkan Bupati Solok, H. Gusmal Dt Rajo Lelo dan Wakil Bupati Solok, Yulfadri Nurdin, sempat memberi pujian kepada Kapolres Arosuka AKBP Reh Ngenana dan jajaran, Kodim 0309 Solok , Walinagari Batang Barus Syamsul Azwar yang tidak kenal lelah mulai dari kejadian, hingga proses evakuasi korban sampai ke rumah sakit dan ke rumah duka. Sayangnya, kepedulian yang tinggi dari Polres atau lainnya, tidak diimbangi dengan tanggung jawab dari Dinas yang terkait seperti BPBD dan Dinas PU Provinsi dan PU Kabupaten Solok, yang dinilai lamban turun ke lokasi bencana. 

Selain itu, menurut masyarakat dan Walinagari Batang Barus, tidak seorangpun anggota dewan Kabupaten Solok atau DPRD Sumbar yang turun ke lokasi bencana. “Ini sangat memalukan, di saat negeri ini dilanda musibah, seharusnya kita satu hati dan saling berangkulan serta melupakan semua masalah yang terjadi dan turun ke lokasi bersama-sama. Tapi kami sangat kecewa karena tidak satupun anggota dewan kami yang turun melihat lokasi bencana. Kalau ini terjadi pada musim kampanye pileg, mungkin akan lain ceritanya,” tutur Luky, warga nagari Batang Barus, pada saat bercerita disela-sela makan siang usai membersihkan lokasi bencana dari timbunan material longsor.

Kecewa Luky, mungkin juga dialami oleh warga lainnya di Kabupaten Solok. Sebab Wakil mereka yang duduk di Dewan Perwakilan Rakyat yang katanya terhormat itu, seharusnya mengayomi mereka di saat suka dan duka, malah kabarnya lebih mementingkan perjalanan ke luar daerah. Pertanyaan itu, juga mungkin dilontarkan masyarakat di nagari lain di Kabupaten Solok, di mana nurani anggota dewan diletakan di saat saudara mereka dihantam musibah, wakil mereka mungkin bersenang-senang di luar daerah dengan alasan kunker, banleg, SDM atau lainnya. Olala! (Penulis adalah Wartawan tinggal di Kabupaten Solok)