WARTAWAN merupakan sebuah profesi, yang menuntut seseorang punya  pengetahuan, keahlian, keberanian  dan kejujuran dalam setiap melaksanakan tugas jurnalistiknya, sehingga karyanya menghasilan sebagai produk intelektual. Jadi, jika seseorang wartawan, tidak memiliki pengetahuan, keahlian, keberanian dan kejujuran, apapun karyanya yang berkaitan dengan pers dan jurnalistik, si wartawan tersebut tidak akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. 

Saya sebagai seorang wartawan mengawali karies pada pertengahan tahun 2000. Waktu itu  saya ditugaskan dari SKM Padang Pos, meliput Pekan Olah Raga Nasional (PON) di Surabaya.  Kembali dari Surabaya, saya mampir ke Bengkulu, karena pada tahun itu  juga terjadi musibah di Bengkulu yaitu banyaknya rumah penduduk yang rusak akibat tanahnya curam ke bawah, sekalian saya juga mampir di tempat adik saya di Curup.  

Setelah dari Bengkulu, saya melanjutkan perjalanan ke Pekan Baru, karena kakak saya sedang sakit keras di Pekan Baru. Dari Bengkulu –Pekan Baru, saya menumpaang  bus Putra Raflesia,  sekitar satu jam  perjalanan dari Kota Curup menjelang Kota Lubuk Linggau, bus yang saya tompangi dinaiki oleh penodong 4 orang, bersanjatakan pistol dan senjata tajam, seperti celurit  serta bahan bakar  bensin, mereka meminta paksa semua barang bawaan penumpang, yang berharga diserahkan kepada mereka termasuk tustel dan perlengkapan lain yang ada  dalam  tas saya, ikut dibawa  penodong tersebut. 

Bahkan uang storan sopir pun diambil semua, untung saja tidak ada korban jiwa saat itu, tetapi sebagian besar penumpang  menjadi trauma dan stress, ada juga diantara penumpang baju dan sepatunya disuruh buka, kalau perempuan, barang berharga seperi kalung emas dan cincin mas disikat semua, untuk makan di jalan pun terpaksa sopir mengutang sama orang rumah makan.  Begitulah kisah pilu yang pernah saya alami selama menjadi wartawan.

Banyak orang mengatakan profesi wartawan adalah profesi gila. Anggapan itu memang ada benarnya. Betapa tidak, kerja wartawan dituntut cekatan dan kadang tidak mengenal waktu. Kadang di tengah larut dan dinginnya malamn jika peristiwa menarik cepat-cepat wartawan harus rela lempar selimut dan meninggalkan isteri serta anak-anak dan pergi meliput peristiwa itu. Kinerja yang ulet demikian selain mengundang pujian an  aggota masyarakat tak jarang juga mengundang cibiran bahkan mungkin plototan plus keliru dialami wartawan. Ambil contoh saja dengan apa yang pernah saya alami. 

Semasa orde baru  saya suka bertualang pergi meliput berita, selain di Sumatera Barat, saya juga pernah,  ke Propinsi Jambi, Palembang, Provinsi Riau dan sampai ke Pulau Jawa. Saya memulai karier  sebagai wartawan pada  Harian Haluan, untuk Kabupaten Padang Pariaman, liputan Koran Masuk Desa (KMD), dimulai sejak Tahun 1991. 

Pada Tahun 1996, berawal dari membaca  Koran Riau Pos,  ada iklan tentang  diadakan Peringatan Hari Raja Ali Haji di Pulau Penyengat Tanjung Pinang, Riau. Panitia mengangkat berbagai acara, saya mengikuti  Simposium antar bangsa  dari tanggal 29 s/d 31 Oktober 1996.   Saya mendaftar  sebagai peserta,keberangkatan kesitu, saya berangkat secara pribadi, pengalaman yang sampai sekarang belum lupa pada ingatan saat akan naik pesawat dari Pekan Baru ke Batam, hampir ditinggalkan pesawat, semua penumpang sudah naik pesawat dan pesawat sudah mulai bergerak, pada saat itu saya sempat  bernada keras kepada petugas pesawat Merpati, di Bandara Pekan Baru, awas saya ini wartawan, kalau saya ditinggalkan saya akan berita di Koran. 

Akhirnya petugas pesawat Merpati itu, melakukan komunikasi dengan pramugari di atas pesawat, sehingga saya tidak jadi ditinggalkan pesawat. Sementara  koper  tempat baju saya, ketika itu  disuruh tinggal oleh petugas, katanya dia yang akan menaikan ke pesawat, ternya sampai di Bandara Batam, tas (koper) saya tidak ada keluar pada begasi, saya protes lagi kepada petugas pesawat  Merpati di Batam, akhirnya dibuat  perjanjian, bahwa  dia berjanji akan mengantarkan koper saya ke Pulau Penyengat Tanjung Pinang, esok harinya. 

Selama di Pulau Penyengat saya sempat mengirimkan berita ke redaksi, ternyata berita saya itu tidak diturunkan, setelah saya kembali datang ke kantor dan berjumpa dengan wartawan senior Herman L, kalau tidak salah waktu itu menjabat sebagai redaktur, saya dipanggilnya ke ruangan, dan ditanya, tentang keberangkatan ke acara Simposium Penyengat, setelah saya menceritakan kronologisnya, karena keberangkatan saya tidak ditugaskan kantor, makanya berita tidak bisa diturunkan.  Selama di ruangan Herman L, banyak pengalaman dan nasehat yang disampaikan  sebagai wartawan. 

Setelah dari Harian Haluan, sekitar  Tahun 1996-1998,  saya pindah ke Majalah Sentra Jakarta. Kemudian 1998-2000, pindah ke Surat Kabar Mingguan (SKM) Padang Pos.  Tahun 2000-2001, Wartawan Harian Semangat Demokrasi di Padang. 2001-2010 Wartawan SKM Serambi Pos. Tahun 2010 sampai sekarang, wartawan SKU Lintas Media, wartawan Media Online SitinjuaNews dan Jatengtime.com.  Dan sejak Tahun 2015- sekarang ikut bergabung dengan Tabloid Bijak cetak dan Tabloidbijak.com (online/siber) yang dipimpin Drs Syahrial Aziz yang akrab dipanggil Yal Aziz. Saya ditugaskan di Kota Pariaman.

Selama menjadi wartawan, berbagai pengalaman atau kenangan manis dan pahit, cukup banyak dirasakan, tetapi itulah seninya menjadi wartawan. Pada tahun 1994, pernah meliput kegiatan Bhakti Angkatan Laut Surya Baskara Jaya, ke Pulau Mentawai. Pada saat itu, bertepatan dengan musibah gempa bumi di Bengkulu, di tengah perjalanan laut, sekitar separoh lagi sampai ke Mentawai, rombongan Angkatan Laut, menghentikan kapal  dan member tahukan kepada semua penumpang, bahwa mereka  akan turun ke Bengkulu, untuk memberikan pertolongan, sehingga kami ditinggalkan di tengah lautan bersama dengan kapal selama 2 hari. Sementara dia pergi ke Bengkulu dengan menggunakan pesawat Helikopter. 

Namanya hidup di atas kapal, banyak pahit dari pada manis, apalagi kita bergaul dengan angkatan, semuanya serba disiplin,  kita harus ikut aturan dia dan tidak bisa hidup semau gue, disamping sambal yang tidak cocok, termasuk air mandi sering mati, sehingga salah seorang rekan kami dari jurnalistik, sampai sakit, karena ndak cocok hidup di atas kapal, termasuk makanan yang kurang enak dan diportasi pulang ke Padang dengan pesawat Helikopter. 

Insya Allah, saya bersama dengan rombongan dari Pemda Padang Pariaman, bisa bertahan sampai ke Pulau Mentawai. Tetapi  saya tidak bisa juga mengikuti  kegiatan Surya Baskara Jaya sampai selesai di Mentawai dan saya pamit juga pulang duluan dari rombongan. 

Pada tahun 2002, ikut sebagai peninjau dan sekalian meliput Pekan Olah Raga Wartawan Nasional (PORWANAS) ke Banjar Masin – Kalimantan Selatan.  Tahun 2003 mengikuti kunjungan kerja DPRD Kabupaten Padang Pariaman ke Sulawesi Selatan-Makasar. Tahun 2004, melakukan perjalanan jurn

Listik ke Singapore. Tahun 2005, mengikuti  kunjungan  Bupati Padang Pariaman, Drs. H. Muslim Kasim, ke Malaysia. Tahun 2007 mengikuti kunjungan kerja anggota DPRD Kota Pariaman ke Suka Bumi dan Tahun 2008 mengikuti kunjungan kerja DPRD Kota Pariaman ke Kota Tanggerang-Banten.  
Pada tahun 2002-2003, ada lagi pengalaman yang paling berbekas sebagai wartawan yaitu sempat berperkara  di Pengadilan Negeri Pariaman dengan Pemda Padang Pariaman, gara-gara saya diusir ke luar dari gedung  DPRD Padang Pariaman, ketika itu  sedang berlangsung pembahasan APBD antara eksekutif dengan legislative. Menurut Pimpinan Sidang, sidang tertutup untuk umum, sementara saya masuk ke dalam ruangan lantaran pintu terbuka. 

Merasa tugas sebagai wartawan dihalangi dan mengacu kepada Undang-Undang No. 40 tahun 1999 Tentang Pokok Pers, saya mencoba berkonsultasi dengan Kantor Advokat Pengcara dan Bantuan Hukum Alwis Ilyas, SH & Associates, akhirnya didapat kata sepakat, bahwa  Alwis Ilayas, mau sebagai menerima kuasa hokum dari saya sebagai penggugat, dan setelah disurati beberapa kali oleh Alwis Ilyas, Wakil Ketua DPRD Padang Pariaman yang memimpin siding ketika itu dan yang langsung mengusir saya untuk dilakukan perdamaian, dia tidak mau datang, akhirnya Alwis Ilyas, mendaftarkan perkara saya di Pengadilan Negeri Pariaman dengan Nomor Perkara Perdata No. 13/Pdt.G/2002.PN.PRM. Tanggal 11 Juni 2002. 

Selama sidang bergulir di Pengadilan Negeri Pariaman, memakan waktu lebih kurang satu tahun, akhirnya Pengadilan Negeri Pariaman, memutuskan menolak perkara ini, artinya apa yang saya gugat melalui kuasa Hukum Alwis Ilyas, SH yaitu menuntut ganti rugi Rp. 500 juta sesuai dengan UUD Pokok Pers, tidak dikabulkan dan begitu pula tuntutan balik dari tergugat satu Wakil Ketua DPRD Padang Pariaman, yang menuntut saya sebanyak Rp. 1 milyar rupiah, juga tidak dikabulkan. 

Setelah itu kuasa hukum saya Alwis Ilyas, SH melakukan banding ke Pengadilan Tinggi Sumatera Barat di Padang, di Pengadilan Tinggi Padang, masa sidang berjalan selama 1 tahun dan putusannya sama dengan PN Pariaman.  

Selama menjadi anggota PWI Cabang Sumatera Barat, pernah menjadi atlet tenis lapangan  Porwanas ke IX 2007  Samarinda Kalimantan Timur. Kemudian Porwanas X tahun 2010 Sumtera Selatan-Palembang. Setelah itu Porwanas ke XI tahun 2013 ke Banjar Masin-Kalimantan Selatan. 

Nama lengkap Drs. Amiruddin, MA, Tk. Majolelo, Tempat Tgl. Lahir, Padang Sago, 6 Maret 1958. Pendidikan terakhir  S2 IAIN IB Padang, Isteri Suarni. A, SH Pegawai Pengadilan Agama Pariaman, anak dua orang Alfi Syukrina Amir, M.Pd dan Elfa Silfiana Amir, S.Pd, M. Pd. No Hp. 085213632959/081363157440. Alamat tempat tinggal  Jln. H. Agus Salim, No. 61 A, Depan Perumnas Desa Kp. Baru Kota Pariaman-Sumatera Barat.  (***)