PEROLEHAN medali emas di PON XIX Jawa Barat memang sudah merupakan tekad semua kontingen yang mengikuti pesta olahraga terakbar di tanah air ini. Untuk itu, wajar saja, jika ada kontingen yang  sudah mematok target berdasarkan kajian dan evaluasi ilmiah dari persiapan atlet yang akan berlaga di PON Jabar tersebut. Kontingen Jabar misalnya, sebagai tuan rumah, targetnya juara umum dengan tekad mengalahkan DKI Jakarta.

Lantas bagaimana dengan target Kontingen Ranah Minang Sumatera Barat?. Kalau kata mantan Ketum KONI Sumbar, Dr Syahrial Bakhtiar, 16 medali emas. Namun sayangnya, Dr Syahrial Bakhtiar yang telah menjadi Ketum KONI Sumbar sejak 2008 lalu dan mengudurkan diri 8 April 2016 dan menyerahkan tanggungjawab kepada Waketum I, sebagai Plt KONI Sumbar tidak menjelaskan, 18 medali emas tersebut dari cabor apa dan siapa atletnya.

Yang hebatnya lagi, Dr Syahrial Bakhtiar sebagai pakar olahraga menyampaikan "mimpinya" dengan target 16 medali emas itu 2013 lalu sebelum dirinya memperpanjang pegabdiannya periode kedua di KONI Sumbar. Sementara waktu itu, belum ada satupun cabor yang mengikuti kejurnas dan pra-PON. 

Lantas timbul pertanyaan, kajian ilmiah apa yang menjadi dasar pemikiran Dr Syahrial Bakhtiar yang begitu berani berkoar dengan target 16 medali emas? Jawaban guyonya bisa dikatakan berdasarkan takok uok-uok. 

Kenapa berdasarkan takok uok-uok? Karena sebelum Dr Syahrial Bakhtiar mengundurkan diri, berdasarkan data dan fakta,  tak satu pun pula atlet dan cabor yang mendapat medali emas di kejurnas dan pra-PON.  Anjloknya prestasi atlet Sumbar ini konon ada kaitannya dengan hengkang dua atlet, dari cabor renang dan angkat berat, yakni Mela dan Yosita. Kedua atlet ini diprediski bakal mendulang 5 medali emas.

Kemudian muncul kritik yang tak objektif, mendesak dan mencikaraui Plt KONI Sumbar masalah target PON Jabar, dengan opini dan persepsi pribadi dengan nara sumber tak berkompeten, serta tak berdasarkan kajian ilmiah. 

Sebagai Plt KONI Sumbar, tentu Syaiful SH Mhum tampaknya tak mau berpolemik masalah target. Soalnya, sebelumnya Dr Syahrial Bakhtiar telah berkoar 16 emas dan waktu itu, Syaiful SH Mhum waketum I yang merupakan bagian dari kepengurusan KONI Sumbar tersebut, dan bisajuga dikatakan manapuik air didulang.

Jadi persoalan target dengan mematok angka, Syaiful SH Mhum memang terkesan tak mau berpolemik dan basitagang urek lihia. Tapi, sebagai Plt KONI Sumbar, Syaiful SH Mhum sengaja merangkul dan memberikan kepercayaan dan amanah kepada empat profoser olahraga dari FIK UNP, dengan membentuk Tim Satgas dan Tim Monotoring. Tujuan Syaiful SH Mhum, agar keempat profesor olahraga ini mengkaji dan mengevaluasi target 16 medali emas yang telah di patok, Dr Syahrial Bakhtiar sebelumnya, secara ilmiah dengan pendekatan sains dan tehnologi.

Kemudian, sebagai pemegang amanah dari pemerintah daerah dan masyarakat olahraga Sumater Barat, Syaiful SH Mhum sengaja melakukan pendekatan secara psikologis dengan berkunjung dan mengajak makan bersama, serta menyerahkan masalah sarana dan sarana keperluan atlet kepada masing-masing pengprov cabor.

Jadi kini, kalau ingin mengkritisi yang objektif, tentu mau tak mau harus bertanya lagi dengan mantan Ketum KONI Sumbar, Dr Syahrial Bakhtiar tentang target 16 emasnya dan kemudian ditanyakan kepada masing-masing ketua pengprov cabor. 

Kata kuncinya, target medali emas itu sangat tergantung dengan atlet, karena si atletlah yang akan berjuang dan bertanding. Kenapa? Karena betapa pun hebatnya ketua pengprov dan pelatih berkaliber dunia, itu hanya sebagai pelengkap dari keberhasilan atlet di PON.  Bravo atlet Sumbar, dan raihlah prestasi terbaik untukmu, pelatihmu, ketum pengrovmu dan Ranah Minang tercinta. (penulis wartawan tabloidbijak dan padangpos).

google+

linkedin