BIJAK ONLINE (Padang)-Masyarakat Pancasila Indonesia (MPI) menghimbau keluarga besar dan simpatisannya untuk mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara yang tidak bisa ditawar-tawar. Pernyataan ini disampaikan terkait adanya indikasi melemahkan ideologi tersebut dengan berbagai cara. 

“Pancasila sebagai dasar negara sudah harga mati. Jangan diutak-atik lagi dengan istilah pilar dan sebagainya,” ujar Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) MPI Meherban Shah, ketika berbincang-bincang dengan Ketum DPP MPI Sumbar, Rosman Muchtar.

Menurut, Ketum DPN MPI Meherban Shah, saat ini pahlawan Pancasila sudah banyak yang tutup usia, rohaniawan Pancasila sudah banyak yang menutup mulutnya, ilmuan Pancasila sudah banyak yang menutup bukunya. Bahkan, bangsa Indonesia yang berideologi Pancasila sudah banyak yang menutup ideologinya dengan dalih Hak Asasi Manusia (HAM).

“Dasar negara kita adalah Pancasila. Kita tidak butuh ideologi import, karena Pancasila adalah raja dari segala raja ideologi di tanah Merah Putih,” tegasnya. Meherban Shah juga mengingatkan segenap elemen bangsa untuk tdak menganggap enteng bahaya laten, karena MPI telah membuktikan masih aktifnya kelompok yang ingin mengikis Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Dikatakan, begitu banyak metode yang menjadi bahaya laten komunis Indonesia. Ada metode memutar balikkan fakta sejarah dimana mereka menciptakan opini bahwa pelaku peristiwa G 30 S bukan PKI, dengan penerbitan buku, pemutaran film dan lainnya.

Kemudian metode penyusupan ke tubuh lawan atau kawan, baik pemerintah, OKP, ormas dan LSM/NGO. Metode pertentangan kelas (metode baji) dengan cara memecah belah kesukuan, pertentangan kaya-miskin, ras, agama, buruh dan manejer, rakyat dengan pemerintah dan lainnya.

PKI ‘baru’, lanjutnya, juga melakukan agitasi (hasutan dan propaganda), provokasi, fitnah, kekerasan, selebaran dan adu domba.

Selanjutnya metode sulami yaitu penanaman ideologi bahwa perjuangan PKI tidak mengenal istilah menyerah atau mati, yang mereka kenal adalah surutnya perjuangan dan revolusi. Selanjutnya, metode danau pasir yang merupakan sebuah perangkap atau jebakan yang sering dilakukan PKI dengan memanfaatkan kebohongan besar.

Metode strategi baru kritik oto kritik dan tri panji. Setelah megalami kegagalan G 30 S, maka tokoh PKI Sudisman menyusun dokumen untuk melanjutkan perjuangannya yang memuat kesalahan-kesalahan PKI selama 15 tahun sejak 1951. Dokumen kop ini disebarluaskan untuk membangkitkan dan memelihara anggotanya.

Dalam kop ditekankan dasar-dasar perjuangan PKI yang disebut tri panji, yang isinya pembangunan kembali partai harus merdasarkan perjuangan pada perjuangan bersenjata dan harus menggalang front persatuan nasional yang revolusioner (buruh, tani, borjuis kecil, dan borjuis nasional).

Terakhir, metode pawang ular dan tukang obat yakni bersikap seolah pahlawan terhadap kekacauan yang sebenarnya ditimbulkan dia sendiri. “Pada intinya PKI selalu menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan walaupun melakukan tindakan keji dan biadab,” tegas Meherban Shah.

Untuk melawan metode itu, lanjutnya, seluruh elemen bangsa harus  meningkatkan pemahaman terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila sebagai dasar negara dan sebagai ideologi bangsa. Mewaspadai penyusupan pihak-pihak yang ingin mengikis Pancasila. Melakukan kembali penanaman jiwa Pancasilais dan kebangsaan melalui penataran P4 dan materi pelajaran bahaya laten komunis hingga ke jenjang universitas.

Selanjutnya, membuat buku tentang sejarah sebagai counter opini terhadap buku-buku yang ingin mengikis Pancasila. Merencanakan tuntutan sesuai undang-undang terhadap kelompok yang merongrong negara dengan sengaja dan melanggar Tap MPRS No XXV/MPRS/1966.

Mempersatukan langkah OKP, Ormas dan lain-lain untuk pengembangan dan pengamalan Pancasila serta bekerjasama secara aktif antara masyarakat degan TNI Polri dan instansi pemerintah. “Kita sama, sama-sama bangsa Indonesia berbendera Merah Putih. Cari ketenangan, bukan kemenangan, karena ketenangan sudah pasti senang dan menang. Saham kalbu ada 100 persen di ketenangan. Kalau mencari kemenangan itu salah, karena saham nafsu dan emesional lebih besar dari saham kalbu,” tutur Meherban Shah.