PADA  hari terakhir Rabu, 30 November 2016,  kunjungan studi komperatif wartawan Pemko Pariaman di Yogyakarta, pimpinan rombongan Kabag Humas Pemko Pariaman, Elvi Andri, SE, MM, mengemukakan pendapat untuk disepakati yaitu masing-masing diberikan kebebasan untuk menikmati Kota Yogyakarta, dengan catatan pukul 12.00 Wib, sudah kumpul lagi di Hotel Malioboro, karena jam sudah naik pesawat, tujuan Jakarta dan selanjutnya terus ke Bandara Internasional (BIM) Padang Pariaman.

Staf Humas Pemko Pariaman, Asrif, dalam penyampaiannya, supaya perjalanan tidak kesasar, sebaiknya jangan berjalan sendiri-sendiri, minimal satu rombongan 2 orang. “Kita harapkan jangan berjalan sendiri, tetapi carilah teman sebagai pendamping minimal 2 orang untuk satu rombongan,” tutur Asrif.

Memanfaatkan waktu sampai pukul 12.00 Wib tersebut, saya bersama dengan Bagindo Armaidi Tanjung, S.Sos, MA, Pempin Sitinjausumbar, memilih mencater satu buah becak motor (Bentor) sampai pukul 12.00 tersebut Rp. 60.000, dengan mengunjungi beberapa titik, pertama kami mengunjungi pusat penjualan oleh-oleh, seperti Bakpia dan lainnya, disini kami tidak berlama-lama, hanya membeli secukupnya saja.

Kemudian titik berikutnya, Taman Pintar Yogyakarta, disini memang agak cukup lama, diperkirakan hampir 2,5 jam, disini saya dengan Armaidi Tanjung, mencari buku sesuai dengan selera masing-masing, karena buku di Taman Pintar ini, harga buku cukup murah. Menurut Armaidi Tanjung, rugi kita kalau ke Yogyakarta tidak mampir ke Taman Pintar, karena Kota Yogyakarta, disamping Kota Wisata, juga disebut dengan Kota Pendidikan, kata Armaidi.

Ditambahkan Armaidi, investasi buku sama dengan mencari  ilmu atau bisa juga disebut menambah ilmu, karena sebagai  manusia kita dianjurkan untuk selalu menuntut ilmu dan tidak boleh berhenti, sampai  ajal sudah datang menjemput, tetapi selagi masih mempunyai nafas kita wajib untuk menuntut ilmu,” ulas Armadi kembali.

Sehabis dari Taman Pintar Yogyakarta, kami melanjutkan kunjungan ke Keraton Yogyakarta. Keraton Yogyakarta (Jogja) atau sering disebut dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat terletak di jantung provinsi Daerah Istimewa Yogjakarta (DIY), Indonesia. 

Karena tempatnya berada di tengah-tengah Jogja, dimana ketika di ambil garis lurus antara Gunung Merapi dan Laut Kidul, maka Keraton menjadi pusat dari keduanya. Keraton atau Kraton Jogja merupakan kerajaan terakhir dari semua kerajaan yang pernah berjaya di tanah jawa. Ketika kerajaan hindu-budha berakhir kemudian di teruskan dengan kerajaan Islam pertama di Demak, lalu berdiri kerajaan yang lain seperti Mataram Islam yang di dirikan oleh Sultan Agung lalu berjalan dan muncul Keraton Jogja yang didirikan oleh Sultan Hamengku Bowono I. 

Hingga sekarang, keraton Jogja masih menyimpan kebudayaan yang sangat mengagumkan. Dalam perkembangannya, Keraton Jogja banyak mengalami masa pasang surut kepemimpinan dan terjadi perpecahan. 

Yang paling terkenal adalah perjanjian Giyanti pada tahun 1755, dimana kerajaan dibagi menjadi 2 (dua) yaitu wilayah timur yang sekarang menjadi keraton surakarta (solo – petualangan selanjutnya ) dan wilayah barat yang disebut dengan Keraton Jogjakarta. 

Namun, Keraton Jogja juga banyak menyimpan sejarah yang tak bisa dilupakan begitu saja oleh bangsa Indonesia, termasuk dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. “Cukup banyak untuk di kaji dan ditulis,” lanjut Armaidi kembali.

Keluar dari Keraton jam sudah menunjukan pukul 11.30. Wib, mengingat batas waktu yang diberikan sudah semakin dekat, maka kunjungan ke Taman Sari, terpaksa diurungkan dan kami meminta kepada tukang becak motor, untuk terus lanjut ke tempat jual pakaian, sepertik batik dan kaos, akhir tepat jam 12.00 kami sudag berada kembali di hotel Malioboro.

Melihat kami menenteng buku, salah seorang rekan wartawan Rudi Yudistia, tersintak dan mengatakan, napa ngak mengjak-ngajak ke Taman Pintar, karena dia juga ingin membawa buku dari Yogyakarta terutama yang berkaitan dengan wartawan. Karena merasa tidak puas, Rudi, cater lagi becak dan pergi sendirian ke Taman Pintar. 

“Saya  sejak berangkat  dari rumah, sudah  punyo niat untuk membeli buku dari perjalanan studikomperatif  ini. Alhamdulillah, akhir tercapai juga,” ujar Rudi dengan wajah gembira.

Kemudian tepat pukul 13.00 Wib, rombongan bertolak menuju Bandara Adi Sucipto. Setelah melakukan cek ini dan istirahat sejenak terdengar pengumuman dari petugas Bandara Adi Sucipto, semua penumpang Garuda tujuan Jakarta untuk menaiki pesawat dan  tepat pukul 16.30 Wib, pesawat yang kami tompangi terbang dan pas pukul 18.00 WIB, sampailah kami di Bandara Sokarno Hatta. 

Sesampai di Sokarno Hatta, Jakarta sebagian anggota rombongan ada yang menunda pulangnya ke Pariaman dan sebagian besar melanjutkan  penerbangan dengan pesawat Garuda tujuan Bandara International Minangkabau (BIM) Kabupaten Paadang Pariaman. 

“Alhamdulillah, sampai kita dengan  selamat,” tutur Abasril yang diamini Khairul Koto,” sambil masing-masing tersenyum dengan wajah gembira. 

Sebagai salah seorang peserta studi komperatif dari Pemko Pariaman, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Wali Kota Pariaman, Drs. H. Mukhlis Rahman, MM  dan Wakil Wali Kota Pariaman, Dr. H. Genius Umar, S.Sos, M.Si, semoga perjalanan ini ada imbasnya terhadap perkembangan Pariwisata Kota Pariaman pada masa yang akan datang. (Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh).