ALHAMDULILLAH, hari ini Rabu, 30 November 2016, saya menerima Penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara 2016 sebagai Pembina Ketahanan Pangan Terbaik Nasional, yang diberikan oleh Presiden RI, Bapak Joko Widodo, di Istana Negara. Penghargaan tersebut merupakan penghargaan yang ke-3 kalinya diterima oleh Gubernur Sumbar, sebelumnya diterima pada tahun 2013 dan 2014.

Penghargaan ini saya persembahkan bagi para petani, penyuluh tani, para pelopor hingga tingkat nagari dan jorong, para pelaku di rantai distribusi, dan jajaran dinas kota/ kabupaten dan provinsi.

Indikator yang dinilai adalah kemampuan mengelola Ketersediaan Pangan, Distribusi Pangan, Keamanan Pangan selain itu mengendalikan inflasi dan menekan angka kemiskinan serta mengatasi permasalahan gizi dan kesehatan masyarakat. Juga menarik investor untuk berinvestasi di Sumatera Barat, serta kemampuan memperkuat kelompok ekonomi kecil dan menengah

Disampaikan oleh Menteri Pertanian, Bapak Amran Sulaiman, tokoh-tokoh yang menerima penghargaan telah melewati proses pengusulan dan penilaian secara berjenjang dengan memperhatikan keunggulan dan dampak dari kegiatan yang dilakukan terhadap peningkatan kualitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat sekitarnya.

Penghargaan ini diterima oleh total sebanyak 73 orang baik kelompok maupun perseorangan yang telah berprestasi dalam mewujudkan kedaulatan pangan, kemandirian pangan, dan ketahanan pangan pada berbagai tingkatan dan jenis usaha menerima penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara (APN) Tahun 2016.

Pembina Ketahanan Pangan sebanyak 18 orang, Pelopor Ketahanan Pangan 5 orang, Pelayanan Ketahanan Pangan 17 orang, Pelaku Pembangunan Ketahanan Pangan 30 penerima, dan Pemangku Ketahanan Pangan sebanyak 3 orang.

Penghargaan kategori Pembina Ketahanan Pangan diberikan kepada 3 Gubernur (Irwan Prayitno, Sumatera Barat; Zaini Abdullah, DI Aceh; Ganjar Pranowo, Jawa Tengah); 5 Bupati/ Walikota dan 10 Kepala Desa/Lurah yang berhasil menggerakkan perangkat daerah dan masyarakat dalam mengurangi kemiskinan, kerawanan pangan, gizi buruk, dan meningkatkan produksi pangan serta mempercepat diversifikasi pangan dalam mewujudkan kedaultan, kemandirian dan ketahanan pangan.

Sedangkan penghargaan kategori Pelopor Ketahanan Pangan diberikan kepada 5 penerima, baik perseorangan (bukan tokoh organisasi formal) yang merintis usaha baru (inovasi) dalam pemanfaatan sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya financial, sumber daya tekhnologi dan sumber daya sosial di daerah/wilayahnya untuk mewujudkan kedaulatan pangan, kemandirian pangan dan ketahanan pangan.

Penerima penghargaaan kategori Pelopor Ketahanan Pangan, yang berasal dari Sumatera Barat adalah Bapak Joni Saputra, dari Kota Payakumbuh.

Pada kriteria Pelayanan Ketahanan Pangan, penghargaan diberikan kepada 8 orang penyuluh/pendamping; 3 orang peneliti; 6 pengawas/medik veteriner dan pengendali organisme pengganggu tanaman (popt) yang berprestasi dan aktif memberikan pengabdian/pelayanan kepada masyarakat dalam mewujudkan kemandirian pangan ketahanan pangan di wilayahnya yang melampaui tugas pokoknya dan/atau prestasi luar biasa.

Kategori Pelaku Pembangunan Ketahanan Pangan diberikan kepada 10 kelompok/gabungan kelompok pelaku produksi pangan; 9 kelompok/gabungan kelompok pelaku pemberdayaan masyarakat; dan 11 kelompok pelaku pengembangan pangan olahan/ perakitan tekhnologi pangan yang berhasil mengelola kegiatan produksi pangan/pemberdayaan masyarakat/ pengembangan industri pangan olahan/ perakitan teknologi pangan dalam mewujudkan kedaulatan, kemandirian dan ketahanan pangan.

Terakhir, kategori Pemangku Ketahanan pangan diberikan kepada Abah Asep Nugraha (Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat); Uus Permana, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat; dan Akhmad Bakeri, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan.

Mereka adalah perseorangan yang menjadi tokoh masyarakat setempat/ adat (bukan PNS/pejabat pemerintah, bukan isteri/suami pejabat pemerintah), mempunyai pengaruh besar, kharisma dan berhasil menggerakkan masyarakat untuk melestarikan dan memperbaiki adat dan budaya lokal (local wisdom) dalam melaksanakan pemberdayaan, penguatan ekonomi dan pengelolaan lingkungan guna mewujudkan kedaulatan pangan, kemandirian pangan dan ketahanan pangan.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan, penghargaan ini diberikan untuk menumbuhkan dan mendorong semangat kreatifitas serta partisipasi masyarakat untuk mengambil peran lebih besar dan memotivasi dalam mewujudkan kedaulatan, kemandirian dan ketahanan pangan di daerah. Karena keberhasilan pembangunan pertanian tidak dapat dilepaskan dari dukungan dan kerja sama berbagai pihak, dari lintas sektor.(penulis Gubernur Sumbar)