BIJAK ONLINE (Kota Padang)---Derasnya denuisasi yang terjadi di Indonesia belakangan ini harus menjadi pemicu bagi generasi muda Nahdlatul Ulama (NU), khususnya Gerakan Pemuda Ansor untuk meningkatkan kompetensi dirinya. Apalagi maraknya penggunaan media sosial yang tidak bertanggung jawab merupakan tantangan tersendiri bagi kader Ansor.

 Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Moesafa, menegaskan hal itu  pada penutupan Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) dan Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) yang diselenggarakan Gerakan Pemuda Ansor Sumatera Barat, Sabtu (9/12/2016), di Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah (PPMTI) Batang Kabung, Koto Tangah, Padang. 

Menurut  Moesafa, gerakan radikalisme saat ini semakin gencar dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak ingin keberlangsungan NKRI tetap utuh. Mereka menyususup ke berbagai elemen bangsa, terutama kalangan generasi muda Indonesia. “Ansor sebagai generasi muda NU, generasi muda Indonesia, selalu siap menghadapi kelompok-kelompok yang ingin merongrong keutuhan NKRI,” kata Moesafa.

Moesafa juga menambahkan, pelaksanaan PKL dan Susbalan yang diwajibkan bagi kader Ansor yang sudah mengikuti PKD dan Diklatsar merupakan langkah untuk menyiapkan kader Ansor yang memiliki kompetensi ideologis Islam Ahlussunnah Waljamaah ala Nahdlatul Ulama. “Ansor Sumatera Barat dengan berbagai keterbatasan yang dimilikinya, ternyata mampu berbuat untuk memperkuat kompetensi kadernya,” tambah Moesafa.

Ketua PW GP Ansor Sumatera Barat Rahmat Tuanku Sulaiman menyebutkan, PKL dan Susbalan diikuti 55 orang peserta kader Ansor yang sebelumnya sudah mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) dan Diklatsar. “Selain PKL, kegiatan ini juga dibarengi dengan Kursus Banser Lanjutan (Susbanlan) yang melibatkan kader Banser yang sudah mengikuti Pendidikan Latihan Dasar (Diklatsar),” kata Rahmat, alumni Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan. 

Menurut Rahmat, PKL sengaja diadakan di komplek pondok pesantren agar Ansor kembali dekat dengan pesantren. Karena Ansor terlahir dari orang-orang pondok pesantren, maka jiwa, roh dan semangat pesantren harus dimiliki oleh kader Ansor. “Tidak mungkin kader Ansor memiliki jiwa, roh dan semangat pesantren jika tidak pernah dekat dan berinteraksi dengan pesantren tersebut,” tambah Rahmat. 

Sekretaris PW  GP Ansor Arianto menambahkan,  melihat situasi politik di Indonesia yang sedang mengalami gonjangan dengan adanya bermacam isu di media sosial, maka dihimbau  kader Ansor di Sumatera Barat  untuk tidak membuat statement yang menimbulkan provokasi dan unsur SARA di media sosial. Salah satu materi yang diberikan dalam PKL ini juga terkait dengan cara cerdas bermedia sosial. 

“Mari kita ciptakan suasana yang  kondusif, menyejukan, penuh hasanah dan  harmonis di media sosial. Mari bermedia sosial dengan penuh kesantunan, dalam istilah Minang harus tahu dengan yang empat. Yaitu kato menurun, kato mandaki, kato mandata dan kato malereng di dalam bermedia sosial. Jika ini dilaksanakan di media social, maka akan tercipta harmonisasi di media sosial,” kata Arianto, dosen salah satu perguruan tinggi swasta di Padang ini.

Dikatakan, selain Moesafa, tampil sebagai instruktur  Anggota Instruktur Nasional PP Ahmad Nadhif dan sesepuh  NU Tuanku Bagindo M. Leter. (tjg/amir)