BIJAK ONLINE (Padang Pariaman)---Putra (10) tahun anak yatim, yang tinggal bapaknya, meninggal dunia, sejak 3 tahun silam, kini terpaksa ikut berusaha membantu ekonomi orang tuanya, sebagai penjual Palai Bada, sehabis pulang sekolah setiap harinya. 

Laki-laki yang punya fisik kurus ini, kebetulan bertemu dengan wartawan anda di simpang Kantor Kapolsek Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Minggu (1/1/2017) dan minta ditompangi naik mobil, karena mau berjualan ke Simpang Tabing Padang. 

Anak 4 bersaudara ini, mengaku tinggal di Nagari Kasang Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, dia berututur ditinggal bapaknya, sejak duduk di kelas 1 SD dan kini sudah duduk di kelas 4 SD Negeri 19 Kasang, Batang Anai.

Menurut penuturan Putra, dia anak nomor 2, dari 4 bersaudara, baik kakak dan adiknya, semua ikut membantu ibunya,  berusaha membuat palai bada, sedangkan Putra mendapat tugas sebagai pemasaran setiap harinya.

Dijelaskan Putra, setiap hari dia membawa palai bada buatan ibunya, minimal 50 buah, dengan harga Rp. 3000 / buah. Kalau hari minggu dan hari libur dia berjualan sejak pagi dan palai yang dibawa dari rumah beda dengan hari biasa yaitu 90 buah.

Setiap hari Putra, dalam berjualan berjalan kaki dari rumahnya sampai ke Simpang Kantor Polsek Bandara Minangkabau (BIM) dengan tempuh jarak lebih kurang 5 kilo meter, setelah itu numpang dengan kendaraan orang dari Bandara ke Simpang Tabing Padang, begitulah setiap hari liku-liku kehidupan yang dilaluinya.

Putra kini tinggal di rumah sewaan Rp. 100 ribu/bulan, bersama ibu dan neneknya. Ayahnya orang Payakumbuh, meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Tetapi walau pun bapak tidak punya, semangat untuk sekolah selalu mendapat dukungan dari ibu dan neneknya. “Jadi kami bertiga sekolah, adik kakak,”  ujarnya.

Berbicara masalah pendidikan Putra, dia hanya bisa mendapat rengking 8 dari 20 orang murid, kendala yang dihadapi Putra dalam melanjutkan pendidikan, baik kakak dan adiknya, setiap semester selalu beli buku bidang study, untung setiap hari dia menabung Rp. 3000 rupiah dari Rp. 5000 rupiah yang dikasih ibunya sehabis berjualan palai bada.

Ketika ditanya, tentang adanya bantuan dari pemerintah, seperti bea siswa, dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan jenis bea siswa lainnya, dia mengaku belum ada menerimanya, termasuk bantuan modal untuk usaha ekonomi ibunya.

“Mungkin saja sekarang belum ada, mana tau setelah ini ada,” kata Putra menjelaskan dalam perjalanan dari Simpang BIM ke Simpang Tabing Padang. Bagi pembaca yang ingin meringankan beban Putra, bisa menemuinya ke SDN 19 Kasang, Batang Anai. (amir)

google+

linkedin