Jika tak punyo tanah pusako dan tanah induk bako untuk berladang tak usah panik banget. Soalnya, bisa berladang dipunggung atlet. Caranya, ya tingkatkan lobi-lobi, opok-opok, dan obok-obok, ditambah dengan prilaku menjilat pejabat atau penguasa, niscaya akan bebas atau leluasa berladang dipungung atlet. 

Kemudian untuk berladang dipunggung atlet, tak perlu pula harus sarjana olahraga atau profesor dan doktor ahli olahraga. Carannya cukup berlagak seakan-akan sangat peduli olahraga dan berkoar diberbagai media, baik media cetak atau online. Kalau hanya mau jadi pengurus, pergunakan pula jurus menjilat dan maopok-opok calon kuat pengurus dan sikut kawan kiri-kanan. Klop dan bisa jadi pengurus mah.

Tapi ingat, jangan menjadi ketua klub. Soalnya kalau jadi ketua klub, pitis kalua mah, karena berhadapan langsung dengan atlet ketika berlatih.Langkah jitunya berupayalah jadi pengurus cabang, baik di tingkat provinsi, maupun tingkat kota dan kabupaten. Bila perlu, ambil kedua jabatan di provinsi dan kabupaten dan kota, bagi yang berdomisili di Kota Padang. Maksudnya, ketua pengprov dan pengcab kita juga. Permahir diri untuk membuat profosal untuk malameh pitis APBD di setiap ada kejuaraan, dengan dalih untuk atlet. 

Jika telah berhasil menjadi ketua cabang olahraga di pengprov dan pengcab, upayakan juga jadi ketua di induk olahraga. Kenapa? Karena kalau jadi ketua atau pengurus di induk olahraga, buat program untuk atlet dan ada kesempatan malameh kepeng yang katanya untuk atlet tersebut. Soalnya induk olahraga itu, anggarannya sudah diplot atau ditetapkan dalam APBD, sampai miliaran.

Jurus lainnya, dekati anggota dewan yang terhormat dengan tujuan, agar dana untuk atas nama atlet bisa agak gadang, dan pasti gadang lo kepeng yang akan dilameh mah. Masalah laporan keuangan, cari lo kawan yang mangarati mambuek laporan fiktif, tapi tak terlacak oleh inspektorat. Khusus badan pemeriksa keuangan, agiah lo jatah eeee, agar pemeriksaan tidak dipersulit dan hanya formalitas saja. Maksudnya, yo berpandai-pandai dan jangan mansur alias makan surang.

Tapi kalau berlatang belakang mantan atlet, ikuti dulu pelatihan, sehingga bisa menjadi pelatih dan perkuat lobi dengan pengurus induk olahraga. Tujuannya, agar setiap mengikuti multi ivent, bisa jadi pelatih kepala. Jika sudah jadi pelatih kepala, sudah ada kesempatan untuk malameh kepeng atlet atau berladang dipungung atlet.

Sudah tu, bangun kemunikasi yang baik dengan pengurus cabang pengprov, yang banyak kepeng atau pejabat pemerintah yang sebenarnya tak mengerti olahraga di cabang yang dipimpinnya. Soalnyo, kesedian penjabat itu jadi ketua cabor, sebenarnya lebih untuk mengambil muka pada atasanya, dan seolah-olah dirinya sangat peduli olahraga dan kemudian terselip keingian untuk mencari populeritas, termasuk bagi pejabat yang duduk di lembaga dewan atau ketua partai politik.

Jadi, jangan heran kalau ada yang terlalu ngotot untuk menjadi bos di olahraga. Dalih pengabdian dan pengorbanan jiwa dan kepeng-kepeng, itu hanya slogan kosong, untuk menipu publik yang ongok raya. Jadi, dalih pengabdian, itu perkataan si pendusta yang memang kesehariannya sudah terkenal dengan panggilan paja panduto alias pangicuh.

Yang hebatnya lagi, si pangicu itu, sampai mau memutus hubungan silaturrahmi sesama teman yang mencoba-coba menghalangi untuk menjadi petinggi di induk olahraga. Baginya, malameh kepeng atlet dengan berbagai dalih adalah tujuannya. Bahasa tegasnya, kepeng, kepeng yang penting kepeng. Kalau masalah prestasi atlet itu kan urusan induk cabang olahraganya.

Sudah tu ada juga cara yang licik dan picik untuk berladang dipunggung atlet. Caranya, jika ada atlet yang lah hebat, lakukan nego dengan daerah-daerah lain. Kemudian jual atlet tersebut, niscaya akan dapat komisi alias fee. Masalah rasa kedaerahan, itu persoalan nomor tigo baleh. Yang penting kepeng masuak dulu. Kenapa? Karena sampai sekarang belum satu pun di dunia olahraga itu teruji dan terbukti peduli daerah. Jadi jangan kaget kalau ada atlet yang hengkang demi kepeng. 

Kita pun tak perlu pula lah terlalu serius membahas masalah kepedulian daerah. Soalnya, niatnya untuk berkecimpung di olahraga, lebih untuk berupaya mengisi puronyo untuk menghidupkan anak jo bini eeee.

Sudah tu tak perlu pula kaget, ada orang yang punya keahlian dibidang tertentu, tapi mencari kepeng di olahraga dengan berladang dipunggung atlet. Kini persoalan, tinggal sama pelaku olahraga saja lagi, mau berladang di kebun yang banyak butuh dana untuk beli bibit, pupuk, pemberantas hama, atau berladang dipunggung atlet yang modalnya cuma muka tembok, dan bermental penjilat. (penulis wartawan tabloid bijak dan padang pos)

google+

linkedin