Sebagai seorang lifter angkat berat, sosok Suluhmi Harefa sudah tak asing lagi. Kenapa? Karena peraih medali emas di PON Kaltim dan Palembang ini, boleh dikatakan sudah malang malintang di dunia olahraga adu kekuatan ini. 

Tampaknya, dunia olahraga ini bagi Suluhmi sudah mendarah daging. Soalnya, sejak menjadi lifter 30 tahun lalu, pria kelahiran 10 Oktober 1967 ini, sampai kini masih berkecimpung di dunia angkat berat dan besi, sebagai pelatih. Bahkan, sebagai pegawai rendahan di keluarahan, Suluhmi dengan segala daya dan upayanya mendirikan Family Barbell Club dan membangun sendiri tempat latihan tersebut.

Untuk itu, jika berkunjung ke tempat latihan Family Barbell Club di Koto Kaciak, Kecamatan Padang Selatan, jangan heran dan kaget jika sarana latihannya masih terbuat dari coran semen yang dibuatnya untuk melatih atlet angkat berat dan besi. 

Bermodalkan semangat dan nekat itulah Suluhmi melatih atlet yang punya latar belakang anak yatim dan anak yang orangtuanya tidak berkemampuan dari sisi materi. "80 persen anak-anak yang berlatih disini, anak yatim, atau anak dari keluarga miskin," kata Suluhmi Harefa ketika berbincang-bincang dengan tabloid bijak.

Saat jadi atlet dulu, kata Suluhmi, dirinya gagal menjadi juara dunia, karena kesalahan pelatihnya yang tak bisa berbahasa Inggris dan pendengaran pelatihnya juga terganggu. "Akibatnya, saya kena dist di kejuaraan dunia tersebut," kata Suluhmi yang enam kali ikut memperkuat kontingen Sumbar di PON.

Kemudian, dirinya juga tak pernah diberikan kesempatan untuk mengikuti kejuaraan dunia. Selain tak punya uang, juga tak pernah didaftar oleh kepengurusan PABBSI Sumbar. "Tapi masalah itu, tak pulalah saya pikirkan lagi dan sekarang saya bercita-cita ingin melahirkan atlet juara dunia saja lagi," kata alumni SMA PGRI 1 Padang ini.

Kalau masalah meraih medali, kata Suluhmi sudah banyak, sekitar 84 medali lah. Begitu juga dengan penghargaan. "Saya bersyukur jugalah dari atlet angkat berat bisa menjadi pegawai rendahan di kelurahan," katanya.

Kini kesempatan untuk melahirkan atlet juara dunia sudah diambang pintu. Soalnya si Sandra Diana Sari yang dilatihnya sejak Sekolah Dasar telah memperlihatkan prestasi yang memuaskan. "Kegagalan Sandra di PON Jabar 2016 lalu, karena saya sebagai pelatihnya tak diajak ke Bandung," ujarnya.

Meskipun dirinya selalu dikucilkan dengan rekan-rekan pelatih lainnya, tetapi hal tersebut tak pula dihiraukannya. "Bagi saya dunia angkat besi dan berat adalah dunia yang tak mungkin saya tinggalkan, karena persaingan tak sehat dengan pelatih yang lain dan semuanya saya anggap dinamika dalam menuai prestasi," katanya lagi.

DI seleknas PABBSI di GOR Jalak Harupat Soereang Jawa Barat,15-18 Maret 2017 mendatang, selain jadi pelatih, dirinya juga akan tampil di kelas master. "Insya Allah, saya masih sangup bertanding dan memang tak sekuat dulu," ujarnya merendah.

Sebagai pelatih di Family Barbell Club, Suluhmi juga mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Sumatera Barat, Kadispora Sumbar, Priadi Syukur, serta pengusaha Rosman Muchtar yang peduli dengan dunia angkat berat. (PRB)

google+

linkedin