BIJAK ONLINE (Padang Pariaman)—Kepala Kantor Kementerian Agama, Kabupaten Padang Pariaman, Drs. H. Helmi, M.Ag, mengatakan, Pesantren adalah sebuah pendidikan tradisional yang para siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan kiai atau buya  dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri.

Hal itu disampaikan Helmi pada Pelatihan Pembinaan Pondok Pesantren Tahun 2017, di Kantor Kemenag Padang Pariaman, Kamis (6/4/2017).

Helmi yang bertindak selaku nara sumber dengan judul materi penjabaran tentang Pendidikan di Pesantren tersebut, menjelaskan, Jenis-jenis Pondok pesantren yang berkembang dalam masyarakat antara lain adalah :

Pertama Pondok pesantren salaf (tradisional), Pesantren salaf menurut Zamakhsyari Dhofier, adalah lembaga pesantren yang mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik (salaf) sebagai inti pendidikan.

Sedangkan sistem madrasah ditetapkan hanya untuk memudahkan sistem sorogan, yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama, tanpa mengenalkan pengajaran pengetahuan umum. 
Sistem pengajaran pesantren salaf memang lebih sering menerapkan model sorogan dan wetonan. Istilah weton berasal dari bahasa Jawa yang berarti waktu. Disebut demikian karena pengajian model ini dilakukan pada waktu-waktu tertentu yang biasanya dilaksanakan setelah mengerjakan shalat fardhu.

Kedua Pesantren khalaf adalah lembaga pesantren yang memasukkan pelajaran umum dalam kurikulum madrasah yang dikembangkan, atau pesantren yang menyelenggarakan tipe sekolah-sekolah umum seperti; MI/SD, MTs/SMP, MA/SMA/SMK dan bahkan PT dalam lingkungannya (Depag, 2003: 87). 

“Dengan demikian pesantren modern merupakan pendidikan pesantren yang diperbaharui atau dimoderenkan pada segi-segi tertentu untuk disesuaikan dengan sistem sekolah,” ujar Helmi.

Sedangkan Yosef Khairul, S.Ag dari Kanwil Kamenag Sumatera Barat, memberikan materi dengan judul “Mewujudkan Pondok Pesantren Yang memilki keunggulan dan daya Saing Era Globalisasi”. 
Pelatihan dilaksanakan 1 hari penuh dengan peserta 50 orang, utusan, Pengurus pondok pesantren, kepala KUA se Padang Pariaman dan Penyuluh Agama. Tujuan dari kegiatan ini, supaya masing-masing saling bersinergi. (amir)

google+

linkedin