BIJAK ONLINE (Padang Pariaman)--Innalillahi wainnailaihi raji’un. Sumatera Barat berduka. Ulama kharismatik dan pendiri/pimpinan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Nagari Pakandangan, Kecamatan 2x11  VI Lingkung Kabupaten Padangpariaman, Syekh H. Ali Imran Hasan wafat pukul 04.00 WIB Rabu (12/4/2017) dini hari. 

Beliau wafat di kediamannya di komplek Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan. Kabar duka ini cepat menyebar melalui media sosial dan hape  hingga kawasan Pesantren Nurul Yaqin terlihat dipadati masyarakat yang datang berbagai daerah.  

Sebelumnya, Syekh Ali Imran sudah menjalani perawatan di Rumah Sakit Siti Rahman Padang. Di rumah dirawat selama satu minggu karena gangguan pernafasan di paru-paru. Dari kondisi yang sudah siuman, Syekh Ali Imran diizinkan pulang pada Minggu (9/4) kemaren.

Aktifitas mengajar dan wirid kembali dilakukan Syekh Ali Imran hingga Selasa kemaren, kata Kepala Aliyah Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan M. Asyraful Anam Tuanku Bagindo, di sela-sela persiapan pemakaman jenazah Ali Imran di komplek Pesantren Nurul Yaqin.   

Ketua PW Gerakan Pemuda Ansor Sumatera Barat Rahmat Tuanku Sulaiman   menyebutkan, sebagai murid kami sangat berduka atas kepergian Buaya Syekh Ali Imran untuk selamanya. Ini berarti masyarakat Sumatera Barat sudah kehilangan lagi seorang ulama yang alim, kharismatik dan memiliki keilmuan keislaman yang mendalami. 

“Sesuai dengan pesan beliau, bagaimana Nurul Yaqin terus berkembang dan tetap bertahan hingga hari kiamat datang. Nurul Yaqin harus terus berkibar. Baik sebagai paham maupun sebagai kelembagaan. Sebagai paham, bagaimana pemahaman keagamaan Islam yang diwariskan beliau dapat diamalkan oleh para murid-muridnya dan masyarakat. Sedangkan secara kelembagaan Nurul Yaqin terus berkembang,” kata Rahmat Tuanku Sulaiman.

Ali Imran lahir pada subuh  30 Juni 1926 di Tanjung Aur, Pakandangan, Padangpariaman. Ayahnya   Pakiah Hasan Tuanku Bagindo dan ibunya Siti Marin. Jika dirunut silsilah nenek moyang,  darah ulama memang sudah dimilikinya. Syeikh Muhammad Amin bin Abdullah lebih dikenal dengan sebutan Syekh Mato Aie di Pakandangan yang terkenal di wilayah Padang Pariaman, adalah kakek buyut Syekh H. Ali Imran Hasan.

Dari perkawinan dengan Azar Mainis, Syekh Ali Imran dikarunia lima orang anak. Yakni Almuhdi Karim, Darussalam, Asyaidul Akram, Muzi Latunil Isma dan Imma Latukhaira. Dari kelima anaknya, kini dikarunia  17 cucu.

Syekh Ali Imran pulang ke Pakandangan tahun 1960 dari belajar agama di Malalo. Kemudian mendirikan pondok pesantren Nurul Yaqin. Sebelum mendirikan pesantren, Syekh Ali Imran  sudah berguru pada 17 ulama yang mengajari berbagai ilmu.  

Gurunya dimulai dari ayahnya sendiri, Syekh Hasan bin  Muhammad Rahim yang bergelar Tuanku Bagindo (lahir 1897 M dan wafat 1980). Kemudian Ali Imran berguru pula kepada Syekh Muhammad Aminullah bin Abdullah yang dikenal dengan Buya Mato Aia. Syekh Muhammad lahir 1776 dan  wafat 1926 M. Guru lainnya Tuanku Pakandangan, Tuanku Sutan Pakandangan, Tuanku Andah Pakandangan.

Kemudian beliau belajar dengan Syekh Muhammad Yatim Tuanku Sutan Ampalu Tinggi Tandikek Mudiak Padang, Syekh Muhammad Yasin Tuanku Qadhi Koto Tujuh  Malin Bandaro (Lahir 1227 H, wafat 1367 H), Muhammad Zein Tuanku Hitam yang bertempat tinggal di Surau Ampaleh Ringan-Ringan, Syekh Zakaria Tuanku Labai Sati Padang Laweh Malalo (wafat 1973 M atau 10 Ramadhan 1393 H), Syekh Syahidan Syarbaini Mungo Padang Manggateh Payakumbuh.

Setelah melanjutkan lagi dengan  Syekh Ibrahim Harun Tiakar Payo Basuang Payakumbuh, Syekh Tuanku Shalih karamat yang bermaqam di Pasar Panjang Sungai Sarik, wafat 14 Rajab 1394 H atau 1974 M. Syekh Dura Tuanku Angin, bermaqam di Padang Magek Batu Sangkar wafat Selasa pukul 10.00 WIB pagi 4 Zulkaedah 1402 H, Syekh H. Abu Bakar Sampan VII Koto Pariaman, Syekh H. Ibrahim Ampalu Tinggi, Syekh Muhammad Yunus Tuanku Sasak Pasaman, Syekh Tuanku Sidi Talua Sampan Pariaman. 

Pondok Pesantren Nurul Yaqin hingga kini terus berkembang. Saat ini jumlah santri sudah mencapai hampir 1.000-an orang. Selain menempati bangunan awal yang berada di kawasan kediaman Syehk Ali Imran, kini memiliki bangunan rusunawa yang mampu menampung hampir 400- an santri laki-laki. Selain itu juga sedang dibangun ruangan belajar yang masih berada di kawasan rusunawa.  Pesantren Nurul Yaqin juga sudah memiliki 12 cabang yang tersebar di berbagai daerah di Sumatera Barat.

“Dilihat dari sarana prasarana ini sudah over kapasitas. Idealnya, butuh 20 lokal lagi untuk menampung aktifitas belajar, aula, ruang makan dan perpustakaan. Tahun lalu Pesantren Nurul Yaqin akan menerima santri baru hanya sekitar 230 orang. 

Jumlah ini sudah dibatasi karena terbatasnya asrama dan lokal. Tahun lalu saja banyak calon santri harus ditolak karena tidak tertampung oleh fasilitas yang tersedia, kata Ketua Yayasan Pembangunan Islam El Imraniyah (PYII) Ringan-Ringan Idarussalam, yang juga anak kandung Syehk Ali Imran.
Visi Nurul Yaqin ke depan adalah menghasilkan 1.000 tuanku. Hingga kini baru  400-an tuanku yang dihasilkan. Hal ini disebabkan keterbatasan sarana sehingga banyak santri yang tidak mampu bertahan. Bayangkan, dulu jika yang masuk santri baru mencapai 180 orang, paling yang sampai jadi tuanku hanya berkisaran 39-an.

Selebihnya, hingga akan naik ke kelas dua saja sudah berkurang hingga 150 orang. Ini disebabkan sulitnya air bersih, fasilitas asrama yang menyedihkan dan seringnya diserang penyakit kulit. Tapi kini kondisi itu sudah berubah. Air sudah melimpah. Asrama makin membaik. Paling yang hilang di kelas I berkisar 30-an saja. 

“Yang ideal, jika masuknya 200 santri baru, maka lulusannya juga 200 tuanku. Maka tidak terlalu lama Nurul Yaqin akan menghasilkan 1.000 tuanku. Selain itu, harus didukung oleh sarana prasarana, ketersediaan lokal belajar, asrama, sistem pengelolaan manajemen yang baik dan sosialisasi ke tengah masyarakat semakin baik,” kata Idarussalam beberapa waktu lalu. (at/amir)