BIJAK ONLINE (Kota Pariaman)---Wakil Wali Kota Pariaman, Dr.H. Genius Umar, S.Sos, M.Si, menghimbau masyarakat untuk ikut meramaikan program maqrib mengaji  yang  digagas Pemko Pariaman, sejak beberapa bulan belakang dan tujuannya adalah bagaimana membangkitkan kembali siarnya agama Islam di Kota Pariaman.

Himbauan itu disampaikan Genius Umar, Senin (24/4/2017) malam, di Mesjid Raya Kampung Baru Kecamatan  Pariaman Tengah Kota Pariaman, dalam rangka  Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Dikatakan, program maqrib mengaji yang di gagas Wali Kota Pariaman, Mukhlis Rahman, dengan membawa  seluruh pimpinan OPD adalah untuk memncing masyarakat yang dikunjungi, dengan harapan dapat meramaikan kembali  maqrib mengaji di mesjid sesudah shalat maqrib sampai denga shalat Isya.

“Dengan harapan dapat shalat maqrib berjama’ah dan sahalat isya berjema’ah di mesjid dan mushalla, sekalian dapat mengajak anak-anak dan generasi muda untuk datang ke mesjid,” ujar Genius Umar.

Sementara itu, ustazd Drs. H. Dafril  dari Kanwil Kemenag Provinsi Sumatera Barat, di dalam cermahnya, mengatakan, salah satu  pokok dari peringatan Isra’ Mi’raj  Nabi Muhammad SAW, dalam rangka mengingatkat umat Islam, supaya mendirikan shalat, karena soal shalat, kalau waktunya sudah datang harus segera dilaksanakan.

“Pelaksanaan shalat berbeda dengan pelaksanaan rukun Islam lainnya. Jadi  perintah mendirikan shalat itu sangat tegas di dalam al-qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW,” ujar Dafril.

Dafril, dalam ceramahnya, membaca cerita atau qissah tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW, melaksanakan Isra’ dan Mi’raj  dari  Mesjidil Haram  sampai Mesjdil Aqsha di Palastina dan terus ke Sidrhatul Mhun Thaha, perjalan panjang itu hanya ditempuh Rasulullah SAW lebih kurang 5 jam pulang pergi.

Menurut H. Dafril dalam ceramahnya, shalat adalah pembeda antara manusia dengan binatang,dalam suatu cerita qissah disebutkan Dafril, antara tukang pedati dengan kerbau, pada suatu hari dalam perjalanan, kerbau berhenti ketika mendengarkan  azan shalat Jum’at, setelah azan selesai kerbau berjalan lagi.

Kumdian  pada perjalanan berikutnya kerbau juga berhenti ketika mendengarkan adanya lonceng gereja berbunyi. Setelah itu, tuan kerbau yang manusia itu, bertanya kepada kerbau, kenapa ketika ada azab shalat jum’at engkau berhenti dan begitu pula ketika mendengarkan lonceng gereja juga engkau berhenti, kata tuannya.

Kata kerbau, ketika berhenti mendengarkan azan shalat jum’at, saya kira  tuan orang Islam, kalau orang Islam terdengar azan shlat Jum’at, pasti dia pergi  menunaikan kewajibannya ke mesjid, ternyata tuan tidak melaksanakannya. Begitu pula ketika mendengarkan lonceng gereja berbunyi saya berhenti, mana tuan orang beragama Kristen yang ibdahnya di gereja. 

“Ternyata kedua-duanya tidak ada tuan laksanakan, ajaran Islam tidak dalaksanakan, ajaran agama Kristen juga tidak tuan laksanakan, berarti kita sama donk,” tutur kerba kepada tuannnya yang diceritkan ustazd Dafril dengan guyonnya. (amir)