Aneh juga ya, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga dan Kepala Biro Humas Pemerintah Sumatera Barat terkesan membiarkan saja opini tentang Sandra Diana Sari menggelinding bagaikan bola salju, karena telah menjadi kosumsi berita oleh berbagai media cetak, elektronik dan online. Padahal persoalan Sandra Diana Sari yang boleh dikatakan dilecehkan para petinggi KONI Sumbar, secara tak langsung telah menjadi gunjingan insan olahraga di nusantra.   

Kemudian secara kedinasan, kedua unsur ini, punya tanggungjawab moral dan kepentingan untuk meredam gelindingan bola salju yang telah menggunung tersebut. Kenapa? Karena Kadispora merupakan "tangan kanan" penguasa di daerah ini tentang dunia olahraga. Begitu juga kabiro humas yang seharusnya tak membiarkan opini tentang Sandra menggelinding bagaikan bola salju. 

Dari fakta yang ada, terkesan kedua unsur ini seperti tak  peduli dan tahu menahu, serta mau "cuci tangan" dan membiarkan bosnya "dipermalukan" dalam berita. Mungkin kedua unsur ini, sudah tak peduli lagi dengan nama baik bosnya.  Soalnya, jika dikatakan tak paham dan mengerti dengan dampak opini,  ya ndak mungkin juga lah. Kenapa ? Karena kedua unsur ini termasuk pejabat yang bereselon dan dapat fasilitas kedinasan.

Sebenarnya, jika Kadispora ini tanggap dan peduli dengan bosnya, persoalan Sandra Diana Sari, tak akan sampai pula menarik perhatian Menpora yang sengaja datang ke Padang dan ke Family Barbell Club, Minggu 28 Mei 2017 lalu. Kenapa? Karena Gubernur Sumbar telah memberikan perintah secara lisan, ketika Sandra Diana Sari, pelatihnya Suluhmi Harefa dan Pengprov PABBSI Sumbar berkunjung ke rumah dinas gubernur.

Waktu itu, Gubernur Sumbar mengatakan;"Pak Kadispora, tolong bantu masalah Sandra ke KONI," begitu kira-kira instruksi gubernur. Tapi sangat disayangkan Kadispora kurang serius menjalankan intruksi gubernur tersebut. Faktanya, sampai sekarang, dana mohon bantuan keberangkatan Sandra untuk mengikuti seleknas, masih dalam awan kelam. Akibatnya, persoalan Sandra menjadi heboh.

Yang ironisnya lagi, ada informasi tentang para petinggi KONI Sumbar yang berkoar dengan sombongnya. "Walaupun Sandra dibawa ke gubernur dan wakil gubernur, kunci dana bantuan itu disini."

Yang hebatnya lagi, para petingi KONI, berkoar dengan irama dankdut tentang masalah pencairan dana KONI yang punya mekanisnya. Kemudian para petinggi KONI tersebut, berupaya pula membentuk opini dengan menjelek-jelekan Sandra dengan lagu irama keroncong yang usang. Katanya, prestasi Sandra di seleknas dan Kejuaraan Asia belum apa-apa. 

Yang parahnya lagi, para petinggi KONI, yang berprilaku bagaikan bajingan olahraga tersebut sengaja pula melantunkan  ancaman berupa sanksi. Seakan-akan para petingi tu penguasa tak terbatas dalam memberlakukan atlet. Padahal, mereka itu "pelayan" untuk melayani atlet berprestasi yang punya hak menikmati dana APBD sesuai regulasi berdasarkan kesepakatan dengan masing-masing cabor. Jadi jangan berlagak bos pula lah. (Penulis wartawan tabloid bijak).