Yondri Samin, SH
BIJAK ONLINE (SOLOK)-Untuk yang kesekian kalinya, kalangan anggota parlemen Bumi Bareh Solok, menyuaarakan agar sektor pertanian menjadi prioritas utama dan harus mendapat perhatian khusu dari pemerintah daerah Kabupaten Solok, terutama dengan mengoptimalkan para kelompok tani, kelompok tani ternak dan juga perikanan.

“Hampir 70 persen dari penduduk Kabupaten Solok bekerja di sektor pertanian, baik petani padi, kopi, hultikultura, coklat atau tanaman lainnya, namun saya melihat Pemerintah Daerah belum fokus kepada sektor tersebut. Bahkan dari dulu para petani bekerja seperti itu saja dan masih mengolah lahan secara manual,” papar Wakil Ketua DPRD Kabupaten Solok, Yondri Samin, SH, Senin (1/5).

 Dijelaskannya, dinilainya Pemerintah Kabupaten Solok selama ini kurang serius kepada sektor pertanian ini, karena masih banyak petani yang bekerja secara manual dan mengolah lahan mereka dengan cara tradisionil. Selain itu, pemerintah juga tidak pernah mendatangkan tim ahli untuk memeriksa kandungan tanah seperti yang ada di Alahan Panjang dan Sungai Nanam, apakah masih layak atau tidak untuk pertanian karena sudah ditanam secara berulang-ulang dengan mengandalkan bahan kimia, seperti pupuk dan racun tanaman lainnya. Khusus untuk lahan pertanian di Alahan Panjang dan sekitarnya itu, Wakil Ketua DPRD ini menyarankan agar Dinas Pertanian, untuk bisa mendatangkan tim ahli seperti dari IPB Bogor atau ITB Bandung, untuk memerikasa kadar kandungan tanah, apakah masih menguntungkan bagi petani atau tidak.

Kabupaten Solok dengan luas wilayah sekitar 4.594,23 Km² setelah dimekarkan dengan Kabupaten Solok Selatan dengan jumlah penduduk sesuai catatn di Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Solok Tahun 2013 lalu adalah sebanyak 357.228 jiwa. Sementara jumlah kecamatan di Kabupaten Solok sebanyak 14 Kecamatan, 74 Nagari dan 403 Jorong. Penduduk Kabupaten Solok saat ini diperkirakan sudah lebih dari 400.000 jiwa


Sementara masalah pertanian ini, menurut Yondri Samin, pemerintah diharapkan agar lebih memperdayakan para kelompok tani (keltan) yang ada di daerah itu. Menurut Yondri Samin, Kelompok-kelompok tani sebenarnya sangat potensi untuk dibina, sayangnya, dengan dana terbatas para kelompok tani tersebut kurang bisa berkembang dan cenderung lebih berjalan sendiri-sendiri. “Kalau kelompok tani kita perdayakan untuk mengembangkan suatu produk pertanian, insyaallah Kabupaten Solok akan lebih maju dan menjadi daerah tujuan study banding atau belajar bagi daerah lain. Tapi ini malah kita yang sering study banding ke luar. Padahal lahan kita sangat subur,” tutur Yondri Samin.

Anggota DPRD Kabupaten Solok lainnya, Patris Chan, SH, juga juga setuju kalau anggaran untuk Dinas Pertanian lebih ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang lebih ditingkatkan. “ Sektor pertanian ini memang tergantung juga bagaimana anggota dewan dan pemerintah merancangnya. Kalau anggota hanya secara teori saja dan pelaksanaan di lapangan tentu dinas yang bersangkutan yang lebih paham,” tutur Patris Chan. Disebutkannya, saat ini, mayoritas penduduk kita bekerja sebagai petani, jadi wajar saja Dinas Pertanian mendapat prioritas utama. Kabupaten Solok sebagai sentra produksi padi di Sumatera Barat, perlu terus melakukan inovasi untuk meningkatkan produktifitas lahan. Hal ini berkaitan dengan ancaman mutasi lahan sawah yang semakin besar di masa-masa mendatang (wandy)