BIJAK ONLINE (Padang Pariaman)---Mawarni Tanjung Hk, perempuan yang kini bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hongkong, merasa galau dan gusar, atas pembukaan Jalan  Kawasan Pendidikan Terpadu Tarok City, oleh Pemda Padang Pariaman, di bawah kepemimpinan Bupati Ali Mukhni duet Suhatri Bur. 

Pasalnya, Mawar  ada punya kebun sawit  seluas 2 hektar dan kini sedang mulai buah pasir, sebahagian kebun itu sudah terkena imbas pembukaan jalan tersebut.  Tanah kebun itu  dibelinya dari Hariatmo, warga Kampung Baru  Desa Tarok, Suku Tanjung diketahui Wali Korong Tarok, Bambang Hermanto,S.Pd dan disaksikan oleh Arif dan Zainuddin, kini kebun sawitnya, dikelola oleh keluarganya. 

Kegalauan dan kegusaran itu disampaikan Mawarni Tanjung, melalui  pesan inbox facebooknya, Jum’at, 5 Mei 2017.

Mawarni mengaku ada hubungan anak bako dengan anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat Endarmy ini, telah menyuruh orang tuanya untuk mencari informasi bersama adiknya kesana kesini mulai dari Kantor Wali Nagari Kapalo Hilalang, sampai ke Dinas Lingkungan Hidup (KLH) dan Tata Ruang Kabupaten Padang Pariama, tetapi belum ada mendapatkan informasi tentang ganti  kerugian tanaman sawitnya.

“Saya betul – betul galau dan risau memikirkan kebun sawit yang dimodalkan dari  upah menjadi TKW di Hongkong lebih kurang Rp. 100 juta, ternyata apa yang diharapkan dan diidaman, diporak porandakan oleh alat berat  begitu saja,” ujar Mawar.

Dijelaskan Mawarni, tanah itu dibeli 1 hektar  sampai jadi kebun Rp 30 juta rupiah kali 2 = Rp. 60 juta rupiah dan sampai kondisi kini sudah ada modal kebun itu berkisar Rp. 100 juta rupiah.   

Alumni Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Padang Pariaman ini, telah bekerja di luar negeri sebagai TKW 21 tahun, mulai dari tahun 1998 sampai sekarang, Singapore 2 tahun, Malaysia 2 tahun, Taiwan 2 tahun, Pekan Baru 2 tahun dan di Hongkong 10 tahun. Mawar tidak segan-segan menyebutkan bekerja sebagai TKW sama dengan babu. 

“Saya  demi  mengangkat derajat keluarga yang hidup dalam garis kemiskininan, rela mengorbankan usianya mencari dolar di Negara maju tersebut,” tutur Mawar lagi.

Perempuan 7 bersaudara ini, mengaku sejak bekerja menjadi TKW, telah berhasil membangunkan rumah untuk kedua orang tuannya serta adik dan kakaknya di kampung. Kemudian termasuk mau menaikan haji kedua orang tuanya, walaupun belum berangkat tapi sudah didaftarkan. Begitu pula semua adik adiknya sudah bersekolah, bahkan sudah ada yang kuliah.

“Alhamdulillah, rezki dari menjadi TKW dapat membangkit batang tarandam, termasuk dapat membantu orang lain alah kadarnya,” tukas Mawar.

Anak ketiga dari Rosna & Syaril, mengaku beralamat warga Korong Padang Kandang Kecamatan  Nan Sabaris,  Kabupaten  Padang Pariaman. Orang tua lelakinya berasal dari Kayutanam, mamak dari Endarmy. Mawar, sudah berharap dan berandai-andai kalau kebun sawitnya tidak kena gusur bisa menghasilkan Rp. 10 juta perbulannya.

Tetapi apa boleh buat, sebagai manusia hanya bisa berencana dan keputusan tetap berada di Tangan Allah SWT, yang jelas kalau Pemda Padang Pariaman, sudah menyatakan ada ganti kerugian tanaman, muda-mudahan tidak mengkecewakan  terhadap kebunnya. Mawar mengaku juga sudah punya toko, tanah dan kebun ditempat lain, tepatnya di Jambi sebagai investasi untuk modal hidup setelah berakhir kontrak tahun 2018 sebagai TKW.

“Saya sangat berharap ganti kerugian tanaman sawit dan cabe dikebunya yang berlokasi  Korong Tarok di atas tanah Ervach ada penggantian yang setimpal dari Pemda Padang Pariama,“ katan Mawar berulang kembali.

Kabah Humas Pemda Padang Pariaman, Andri Satria, SE, ME ketika dikonfirmasi, bahwa setiap tanaman masyarakat yang terkena imbas pembukaan jalan sudah dicatat Panitia dan Pemda Bakal mengganti kerugian terhadap tanaman itu, apabila proses sudah selesai. Andri Satria, tidak mau menjawabnya. “Saya belum ada komunikasi dengannya,” kata Andri singkat.

Menurut informasi yang layak untuk dipercaya, bahwa data-data tentang tanaman sawit Mawarni, sudah sampai kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tata Ruang, Kabupaten Padang Pariaman, Ir. Yuniswan, M.Si. Pada perinsipnya keluarga Mawarni sangat setuju dengan pembangunan itu, tetapi dia minta dudukan soal ganti kerugian tanaman dan siliah jariah. 

“Jangan ada masyarakat yang menangis, karena  ganti kerugiannya tidak diberikan. Kita dalam alam kemerdekaan, tentu kita tak ingin ada rakyat yang jadi korban, karena pembangunan itu,” ujar sumber tersebut yang meminta jati dirinya dirahasikan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tata Ruang, Kabupaten Padang Pariaman, Ir. Yuniswan, M.Si yang dicoba menghubungi melalui pesan singkat di inbox facebooknya, belum memberikan jawaban. (amir)