BIJAK ONLINE (Padang Pariaman)— Pejabat Kabupaten Padang Pariaman, tidak punya  ide untuk memngembangkan Pariwisata  daerahnya. Walaupun Kadis Dinas Pariwisata baru dilantik beberapa bulan belakang, masih kosong dengan ide.  

Buktinya,  Bupati Padang Pariaman, Drs. H. Ali Mukhni selaku pemimpin Daerah Padang Pariaman, duet dengan Suhatri Bur, terpaksa, membuat  Studi  Tiru (contek) kepunyaan daerah lain ke Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur , karena Pengelolaan Pariwisata daerah itu, tergolong maju.

Untuk keberangkatan rombongan Pemda Padang Pariaman, terpaksa mengeluarkan keuangan  APBD Tahun 2017, hampir Rp. 100 juta rupiah. Begitulah mahalnya ide a tau  ilmu  dalam  pengembangan Pariwisata. Apakah ini sekedar raun-raun  saja. Masyarakat Padang Pariaman, menunggu hasil perjalanan pejabat ini untuk pembangunan Pariwisata daerah.

Rombongan pejabat  yang dapat  persetujuan pergi studi contek atau tiru terseu, berjumlah 9 orang, terdiri dari eselon II dan eseleon III,  yang dipimpin Asisten II, Hj. Netty Warni. SE, MM, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Jon Kenedi, Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu dan Perindustrian Hendra Aswara, Kabag Organisasi dan RB Teguh Widodo, Kabag Humas dan Protokol Andri, Kabid Pengembangan Pariwisata Wiwik Herawati, Kabid Pendapatan Tripita Olina BPKD, Kabid Ekonomi.

Studi tiru tersebut bersamaan dengan studi komparatif Dinas Pariwisata Provinsi Sumbar ke tempat yang sama bersama beberapa Kepala OPD Provinsi Sumbar dan Kepala OPD seluruh kabupaten/kota di Sumbar yang membidangi urusan kepariwisataan. 

Jadilah rombongan studi tiru Pemkab Padang Pariaman bergabung dengan rombongan Studi Komparatif Strategi Percepatan Pembangunan Pariwisata Tahun 2017 Dinas Pariwisata Provinsi Sumbar menuju Banyuwangi, Rabu (04/05). Rombongan besar dari Sumbar yang dipimpin Asisten II Sekretariat Daerah Provinsi Ir. Syafruddin berjumlah 37 orang sementara dari 

Bapelitbangda dan Kasi Pengembangan Objek dan Daya Tarik Wisata Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Erizal. Di Kantor Bupati Banyuwangi bersamaan rombongan Kabupaten Pemalang berjumlah 160 orang sudah lebih dahulu hadir dipimpin langsung Sekretaris Daerahnya. 

Seluruh rombongan disambut oleh Asisten Administrasi Pemerintahan Banyuwangi Choirul Ustadi Yudawanto bersama sejumlah Kepala OPD. Berdasarkan informasi Choirul, Bupati Azwar Anas sedang dinas ke Aceh mengikuti Pernastani. 

Sementara Wabup menutup acara TMMND, sehingga dia bersama Kepala OPD menyambut rombongan tamu yang berjumlah total hampir 200 orang. Ketika menyampaikan maksud tujuan Pemkab Padang Pariaman memilih Kabupaten Banyuwangi sebagai lokasi studi komparatif, Asisten II Netty Warni menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berhasil mengembangkan sektor kepariwisataan dan mendongrak perekonomian dan kesejahteraan masyarakatnya.

"Dalam kurun waktu 5-6 tahun belakangan, Banyuwangi dinilai pemerintah pusat berhasil mengelola pariwisatanya bahkan berhasil meraih penghargaan Inovasi Kebijakan Publik dan Tata Kelola Pemerintahan di Bidang Pariwisata Terbaik Sedunia versi Badan Pariwisata PBB, UNWTO Award di Madrid tahun 2016 lalu," jelas Netty Warni diamini Jon Kenedi. Selain itu, lanjut Netty, Banyuwangi berhasil keluar dari image buruk sebagai daerah yang dikenal daerah klenik dan praktek santet menjadi tujuan wisatawan lokal dan internasional. 

Dari segi administrasi pemerintahan, Banyuwangi juga memperoleh nilai SAKIP dan LAKIP dari C menjadi A. "Ini loncatan luar biasa bagi sebuah daerah," sebut Netty kagum yang dibenarkan Kabag Organisasi Teguh. "Kita saja, dari CC ke B saja luar biasa sulitnya," kata Teguh sambil tercenung. "Sudah tepat kiranya kita mengunjungi dan meniru keberhasilan Banyuwangi untuk kita terapkan di Padang Pariaman nantinya," harap Jon Kenedi bersama Hendra Aswara. 

Dalam penjelasan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi tentang pembangunan bidang kepariwisataan dimulai dengan membranding daerah yang dulunya dikenal sebagai daerah klenik, santet, tempat cari keris. Sebagai daerah paling ujung Jawa Timur, Banyuwangi hanya dikenal sebagai daerah penyeberangan ke Pulau Bali. Daerahnya panas, tidak nyaman, paling kotor di Pulau Jawa. Branding yang dipilih oleh Banyuwangi adalah The Sunrise of Java. Sejak awal Abdullah Azwar Anas menjabat sebagai Bupati, langsung melakukan konsolidasi luar biasa dengan seluruh aparaturnya. Aparatur yang tidak mau melakukan perubahan dibina, bagi yang tidak bisa dibina diganti dengan yang lain sehingga semangat perubahan terjadi di seluruh ASN. 

Dalam membangun pariwisata, Azwar Anas, jelas Choirul, membentuk Supertim, bukan Superman. Sehingga seluruh program dan permasalahan bisa terpecahkan dan terselesaikan dengan Supertim. "Kami tidak memakai event organizer lagi dalam mengerjakan sebuah kegiatan besar, namun saling bekerjasama dalam Supertim yang terdiri dari seluruh OPD," jelas mantan pegawai di Kabupaten Solok itu. 

Sebagai contoh, lebih jauh Choirul, pelaksanan Tour de Banyuwangi dikerjakan secara bersama tanpa memandang bahwa kegiatan tersebut kegiatan Dinas Pariwisata Olahraga. Alhasil, stigma Banyuwangi sebagai kota santet dan terasing kini perlahan-lahan mulai sirna. Kabupaten paling timur di Pulau Jawa itu kini tumbuh menjadi tujuan destinasi dunia. 

Adalah Abdullah Azwar Anas, sang Bupati yang selama empat tahun terakhir merubah wajah Banyuwangi. Banyuwangi kini dikenal sebagai kota festival. Puluhan festival digelar dalam setahun di kabupaten Osing itu. Tercatat 72 festival digelar tahun 2017 ini. Usai mendengarkan penjelasan rahasia sukses keberhasilan Banyuwangi membangun ekonomi dan kesejahteraan warganya melalui bidang kepariwisataan, 

Demikian laporan perjalanan Studi Tiru (contek) Kabupaten Padang Pariaman, disampaikan  Kabag Humas, Andri Satria Masri, SE, MM kepada wartawan melalui pesan WA dan inbox nya, Minggu (7/5/2017).  (rl/amir)