BIJAK ONLINE (LIMA PULUH KOTA)—Meskipun pulang dengan tangan hampa, belum berhasil menemukan sang ibu kandung di Payakumbuh. Ikang Pangestu (20), mohon pamit kepada sejumah wartawan dan mohon restu juga kepada seluruh lapisan masyarakat Luak Limopuluh, Jum’at (26/5).

Seraya menghapus air matanya, pemuda sebatang kara yang telah empat hari berada di kota Payakumbuh dan bermalam di kantor Balai Wartawan (BW) Luak Limopuluah itu, tak putus asa untuk meneruskan mencari dimana rimba orang tuanya.

“Seraya menghapus air mata dipipinya, dia mengucapkan terima kasih kepada wartawan Luak Limopuluh, Baznas, Mak Yul yang berjualan di BW dan segenap masyarakat, saya kembali meneruskan niat mencari ibu kandung bernama Tuti Melinda Surya Ningsih, binti Naja Mudin, saat ini diperkirakan berusia 36-38 tahun, “ujarnya di BW kemarin.

Mudah-mudahan atas pertolongan bapak-bapak saya di BW membantu mencari orang tua di Ridhai Allah SWT, saya yakin ibu saya masih hidup dan berkemungkinan juga mencari saya. Saya minta izin kembali ke kampung halaman, yakni desa Muara Saling, Kecamatan Muara Saling, Kabupaten Empat Lawang, Propinsi  Sumatera Selatan.

Selama empat hari berada di Kota Payakumbuh dibantu rekan-rekan wartawan untuk mencari ibu kandungnya, ternyata usaha Ikang Pangestu untuk menemukan wanita yang telah melahirkannya itu belum jua membuahkan hasil.

Namun, ada secercah harapan bagi Ikang Pangestu, ketika dia menemukan data di kantor Kependudukan dan Catatan Sipil Payakumbuh, nama seorang wanita yang persis sama dengan nama ibu kandungnya yakni Tuti Melinda Surya Ningsih. Namun bedanya, dibelakang nama wanita itu memakai marga Lubis dan kini bermukim di Kelurahan Tanjung Ratu, Kecamatan Katibung, Lampung.

“Dari foto yang terpampang dari data e KTP, wanita bernama Tuti Melinda Surya Ningsih Lubis itu, ada kemiripan dengan foto ibu kandung saya. Meskipun memakai nama Lubis dibelakang, saya yakin itu ibu saya, berdasarkan itulah saya tak putus asa untuk mencarinya, “ ujar Ikang.

Menurut Ikang, ia akan mencari wanita bernama Tuti Melinda Surya Ningsih Lubis itu ke Lampung. “ Siapa tahu, wanita itu adalah ibu kandung saya yang telah 20 tahun lamanya saya cari dan mungkin telah kawin lagi dengan pria lain yang bermarga Lubis,” sebut Ikang.

Ketika bertolak ke kampung halamannya, Jum’at sore (26/5) dilepas dengan rasa haru oleh sejumlah anggota Balai Wartawan Luak Limopuluah. Tak banyak yang dapat diucapkan Ikang Pangestu saat keberangkatannya itu, kecuali mengucapkan terima kasih kepada wartawan dan masyarakat Payakumbuh serta Baznas Limapuluh Kota yang telah memberikan bantuan kepada dirinya selama terkatung-katung di kota Payakumbuh.

“Semoga kebaikan yang telah diberikan kepada saya menjadi amal ibadah dan diberi imbalan yang setimpal oleh Allah SWT,” ujar Ikang Pangestu dengan bola mata yang berkaca-kaca, ketika akan naik ke atas mobil travel yang menjemputnya ke Balai Wartawan untuk berangkat ke kampung halamannya. 

Pada kesempatan itu, Am Chandra Kumis, Doddy Sastra, Dadang, Nura, Rahmat Sitepu dan istri Doddy Satra, tak dapat berbicara banyak, karena hanyut dan iba melihat nasib Ikang. Hanya satu kata yang dapat diucapkan kawan-kawan wartawan. Selamat jalan Ikang Pangestu, semoga Tuhan mempertemukan dirimu dengan ibu kandungmu.

Sedangkan Etek Yul yang berjualan di kantin BW juga ikut sedih dan menangis haru, Etek Yul berdoa, semoga perjalanan baiknya dalam rangka mencari ibu yang melahirkannya bertemu dengan cepat, sehingga ia dapat berkumpul bersama keluarganya dalam keadaan bahagia.

Ditambahkan Etek Yul, awalnya kita curiga takut dengan beragam modus orang zaman sekarang, setelah dia bermalam di BW, ternyata dia anak baik dan santun. Ikang Pangestu itu benar-benar rindu dengan ibu kandungnya, tak terbayang bagi kita, rindu seorang anak akan bertemu dengan ibu kandungnya.

“Mendengar cerita dari dia, ingin rasanya kita bekeluarga dengannya, masalah pekerjaan bisa saja dia dapat di Payakumbuh dan Lima Puluh Kota ini, karena dia terlihat jujur dan patuh. Semoga Allah SWT mempertemukannya dengan ibu kandung yang sudah bertahun-tahun dia cari, “doa Etek Yul. (Nur Akmal)