TAMPAKNYA, para petinggi KONI Sumatera Barat sudah kehilangan akal sehat untuk menyelesaiakan persoalan Sandra Diana Sari lifter putri dari Family Barbell Club yang berhasil meraih gelar juara diKejuaraan Asia, 1-5 Mei di Soreang Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang kian menjadi heboh, setelah Menpora datang ke Padang, Minggu, 28 Mei 2017 lalu. 

Begitu juga dengan pejabat yang berwenang masalah olahraga. Kenapa saya katakan kehilangan akal sehat? Karena para petinggi itu sengaja pula memanfaatkan mantan lifter yang punya reputasi dikancah dunia untuk menghubungi Sandra melalui telepon untuk datang sendirian bertemu Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit. 

Semula, saya menilai informasi dari Sandra melalui pesan masseger (inbox) di media sosial suatu hal yang biasa dan bahkan saya membalas inbox itu dengan bahasa nasehat, agar Sandra menyampaikan apa adanya kepada Wakil Gubernur Sumbar dan berikutnya mempertanyakan, apa sudah berkoordinasi dengan pelatihnya Suluhmi Harefa yang enam kali memperkuat kontingen Sumbar di PON. Bahkan prestasi Suluhmi, tak hanya peraih medali emas PON Palembang saja, tapi juga peraih medali emas di Kejuaraan Asia kelompok master di Soereang Kabupaten Bandung 1-5 Mei 2017 lalu.

Setelah saya berkomunikasi dengan Suluhmi prihal Sandra diundang sendirian bertemu Wagub Sumbar itu, timbul pula kecurigaan saya. Kenapa ya, kok Sandra sendirian?

Selanjutnya saya mengirim pesan SMS ke Wagub Sumbar Nasrul Abit. "Ass pak wagub, mohon informasi dan klarifikasi tentang Sandra. Apa benar pak wagub menyuruh Sandra datang sendirian besok pagi jam 09.00 WIB keruangan kerja pak wagub. Wss Yal Aziz". SMS itu saya kirim sekitar pukul 20.10 WIB. Kemudian SMS itu dijawab pak wagub. "Ya melalui kadispora."

Berikutnya pukul 20.17 WIB saya balas SMS pak wagub tersebut. "Kalau boleh tahu lagi, kenapa hanya Sandra sendiri tanpa pelatihnya." SMS ini belum dibalas wagub. Kemudian saya SMS lagi;"Cara begini menurut saya bukan untuk menyelesaikan masalah, tapi membuat masalah baru dengan cara tak profesional dan saran saya agar duduk semeja," pesan SMS ini dikirim 21.38 WIB dan dijawab wagub pada pukul 22.33 dengan kata;"Saya minta bersama pelatih."

Setelah membaca SMS Wagub Sumbar itu, saya mencoba menghubungi rekan-rekan untuk minta pendapat dan masukan masalah pemanggilan Sandra yang diminta datang sendirian ini. Dari rekan-rekan itu saya mendapatkan masukan. 

Kata rekan itu, cara pemanggilan Sandra sendirian itu, mirip gaya PKI menculik satu persatu dengan maksud adu domba dan tak usah dilayani. Kalau ada lagi pemanggilan harus melalui surat dan jelas siapa yang memanggilnya, apa KONI Sumbar, Pengprov PABBSI Sumbar atau Wakil Gubernur Sumbar itu sendiri. Kemudian dalam surat pemanggilan itu, harus jelas juga persoalan yang akan dibahas dan siapa-siapa saja yang ikut diundang. Kalau tidak pakai surat dan tak jelas pula apa yang akan dibahas, abaikan saja pemanggilan lisan tersebut. 

Dari persoalan Sandra ini, timbul pertanyaan dan dugaan, siap aktor dibelakang pemanggilan Sandra sendrian ini. Kalau dari SMS Wagub Sumbar, dalangnya ya Kadispor Sumbar. Tapi, apakah Kadispora ini berinisiatif sendiri atau setelah berkoordinasi dengan para petinggi KONI Sumbar yang memang telah melakukan perlawanan opini dengan berbagai macam fitnah dengan mengajak Pengprov PABBSI Sumbar untuk menyudutkan Sandra dengan reputasinya. 

Kenapa saya katakan ada fitnah? Karena Menpora menyebutkan ada yang membawa istri dan anak. Waktu itu langsung saya jawab,  bahwa keberangkatan Sandra ke Seleknas, 1-5 Mei 2017 itu, dana pribadi saya. Bahkan kepada Menpora saya sebutkan;"Untung saya bawa istri dan istri saya satu kamar dengan Sandra dan saya satu kamar dengan pelatih Sandra Suluhmi Herfa dan biaya kamar Rp 500.000 satu malam. 

Waktu itu Menpora berseloroh;"Banyak uangnya ya." Saya jawab, tidak pula pak Menpora, tapi untuk atlet dan pelatihnya ada lah."

Dari pertanyaan Menpora itu, tentu ada pihak-pihak yang memfitnah saya dengan sengaja menyampaikan persoalan bawa istri dan anak itu. Tapi tukang fitnah itu lupa dan tak menyangka fitnahnya saya bantah langsung ke Menpora.

SEBENARNYA, untuk menyelasaikan persoalan Sandra itu tidak sulit dan bahkan mudah sekali. Caranya, berikan saja hak-hak Sandra dan pelatihnya Suluhmi itu sesuai regulasi siapa yang berhak menerima dana dari APBD Sumbar.  Kalau Sandra dan Suluhmi tak berhak, ya katakan saja secara terbuka dan transfaran dengan alasan-alasan yang ilmiah. Kemudain, jangan pula lah melakukan perlawanan opini dengan berbagai dalih, ingin memberikan sanksilah kepada Sandra dan pelatihnya, serta Family Barbell Club. 

Sebagai bahan renungan bagi insan olahraga dan terutama kepada para petinggi KONI Sumbar, serta pejabat, Sandra itu bisa saja pindah ke daerah lain, seperti Provinsi Bengkulu, yang gubernurnya teman saya dan saya pernah dua tahun bekerjasama menerbitkan Harian Musi Rawas di Kota Lubuklinggau. (Penulis wartawan tabloid bijak)