JUJUR, saya memang tidak pakar komunikasi publik dan hanya seorang wartawan kampungan yang tak punya reputasi yang wah atau aduhai. Harap dimaklum saja, karena saya hanya alumni pesantren Thawalib Padang Panjang dan S1 Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjjol. Kebetulan saja pernah menjadi jurnalis di Persda Kompas Gramedia Grup.

Jadi, sangat tidak mungkinlah saya mampu menjawab dan menjelas secara rinci, jelas dan tegas tugas dan tanggungjawab seorang Kabiro Humas di Rumah Bagonjong yang kata teman-teman jurnalis di Ranah Minang, pandainya baru hanya menshare berita pak gubernur dan wakil gubernur di media sosial, apa itu face book, WatsApp, dan mungkin juga integram. Padahal pekerjaan itu, merupakan gawenya seorang sekelas tukang sapu atau clining service.

Yang anehnya, ---sehingga membuat saya kaget dan tak habis pikir juga-----, kok kenapa teman-teman wartawan itu bertanya kepada saya yang saya pun tak tahu menahu masalah yang ditanyakan. Seperti pertanyaan, mengapa tak ada acara berbuka antara gubernur dan wartawan, sebagaimana dilakukan gubernur sebelumnya. 

Yang ironisnya lagi, ada yang mengatakan kepada saya, kalau Kabiro Humas Rumah Bagonjong ini pilih kasih atau membeda-bedak diantara wartawan. Bahkan mencuat juga bisik-bisik diantara wartawan tentang adanya dugaan Kabiro Humas "menyunat" kepeng jatah wartawan. Waduh.

Tuduhan sadis lainnya, Kabiro Humas dikatakan, setiap hari kerjanya hanya mepergunjingkan OPD dan maobok-obok gubernur dan wakil gubenrur. Tugas dan tanggungjawabnya sebagai kepala biro, tak jelas dan komunikasi dengan jajarannya, disebut-sebut juga kurang harmonis. Setiap ada pejabat yang ingin menghadap gubernur, selalu dia ada di dekat guburner, karena takut juga dilaporkan para kepala dinas yang digunjingkannya tersebut.  

Dari sekian banyak pertanyaan yang menghujani saya tu, saya sarankan untuk bertanya langsung kepada pejabatnya Jasman Rizal yang dari seorang camat di Kabupaten Solok dapat posisi yang strategis ini. Kenapa? ya mana mungkinlah saya bisa menjawabnya, karena kunci jawabanya di Kabiro Humas deh. Ogah ach bergunjing.

Yang hebatnya lagi, ada diantara wartawan itu berani memberikan penilaian tentang kinerja kabiro humas dengan perkataan gagal dan lamah. Contohnya, katanya, ada empat persoalan yang meng hebohkan di Ranah Minang. Seperti pemberitaan masalah Minang Mart, masalah lifter putei Sandra Diana Sari, sehingga datang Menpora ke Family Barbell Club. Serta masalah Kawasan Mandeh yang memunculkan  perseteruan antara Wakil Gubernur Nasrul Abit dengan Bupati Pessel. Kemudian masalah dokter Feira Lovita yang mempermalukan Orang Minang dengan tuduhan perkusi. Ada benarnya juga ya.

Jadi, jika kita kaji dan analisa, rupanya sudah ada tuntunan atau pedoman tentang kinerja tipoksi Kabiro Humas tersebut sebagaimana sudah diatur dalam Permendagri No 13 Tahun 2011, Pasal 3 yang mengatur tentang tugas dan fungsi Humas Pemerintah tersebut, yang sudah dengan jelas dan tegas menyebutkan;"Lembaga kehumasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 mempunyai fungsi sebagai tempat komunikasi pemerintah kepada masyarakat.”

Kini, sebagai bahan renungan, perlu dijelaskan fungsi dan peran Kabiro Humas tersbut;

1.Sebagai penyampai informasi atau menjadi sumber informasi resmi pemerintah.

2.Sebagai komunikator publik, memberikan pelayanan dan menyebarluaskan pesan atau informasi kepada masyarakat tentang  kebijakan dan  program kerja lembaganya.

3.Sebagai mediator yang proaktif dalam menjembatani kepentingan instansi pemerintah di satu pihak dan menampung aspirasi serta memperhatikan keinginan-keinginan publiknya di lain pihak.

4.Sebagai  agen  pembentuk opini publik yang menghubungkan organisasi dengan publiknya.

5.Sebagai pembangun citra positif pemerintah dan masyarakat.

6.Membina dan menyelenggarakan publikasi dan penerangan.

7.Membina dan menyelenggarakan hubungan dengan masyarakat melalui pers dan media lainnya.

8.Melakukan analisis dan evaluasi berita serta menyampaikan rekomendasi.

9.Menyelenggarakan dokumentasi atas kegiatan-kegiatan Pemerintahan.

Jadi kalau kita lihat pokok masalah humas ini, ya memang wajar jugalah kalau Kabiro Humas Pemprov Sumbar ini jadi bahan pembicaraan para wartawan di Ranah Minang. Mengenai tuduhan dan penilaian Kabiro Humas pandainya baru menshare berita pak gub dan pak wagub, ada benarnya. Semoga  sajalah. (Penulis waratwan tabloid bijak dan padang pos.com)