BIJAK ONLINE (LIMA PULUH KOTA)---Usai menyerahkan bantuan berupa uang sebanyak Rp10 juta dari tim VIII safari ramadhan kepada pengurus mesjid Al Islah jorong Paninjauan, kenagarian Koto Tangah, kecamatan Bukit Barisan, warga setempat langsung menanyakan bagaimana cara mengusir hama babi hutan.

“Kenagarian Koto Tangah, kecamatan Bukik Barisan, khususnya jorong Paninjauan ini, dikenal sebagai komoditi berbagai tanaman dan perkebunan. Namun, akhir-akhir ini, para petani mengeluh dengan saking meraja lelannya hama babi hutan, “ujar Dt. Rajo Bosa kepada tim VIII safari ramadhan di mesjid Al Islah jorong setempat, Jum’at (2/6) malam.

.

Hama babi hutan di daerah kami memang sangat merepotkan, tak bisa kami berbuat banyak untuk mengusirnya, hama babi hutan usil sekali, apalagi dimalam hari, padahal nyaris setiap rumah memiliki anjing pemburu.

“Banyak orang menyebutkan, untuk mengusir hama babi hutan, setiap rumah harus memiliki anjing pemburu, kenyataan hama babi hutan tetap saja bekembang biak. Bagaimana cara mengusir hama babi hutan tersebut, sehingga masyarakat tidak gagal panen lagi,“pinta Dt. Rajo Bosa.

Kemudian Wali nagari setempat, Zamri, mengucapkan terima kasih atas kunjungan tim safari ramadhan tahun ini. Dengan kedatangan tim ke nagari kami, tentu banyak harapan yang akan sampaikan. Semoga seluruh permohonan kami dapat dikabulkan untuk tahnun berikutnya dan semoga hubungan silaturahmi ini terus meningkat.

“Seperti yang disampikan warga, terhadap meraja lelanya berbagai hama, daerah kami juga kurang mendapat pupuk. Mudah-mudahan dialog antara tim safari ramadhan dengan warga mendapat jalan atau solusi terbaik untuk menghalau hama babi hutan, “harap Wali nagari.

Dalam kesempatan malam itu, tim VIII safari ramadhan dihadiri mantan Kadis Pertanian Sulaiman, langsung menjawabnya, persoalan babi hutan merupakan salah satu hama yang cukup merepotkan petani. Hewan yang hidup di semak dan hutan ini, sering menyatroni ladang petani dimalam hari. 

Supaya tidak dikatakan kalah menghadapi hama ini, sejumlah petani membentuk kelompok pemburu babi hutan. Mereka memberi nama kelompok itu dengan singkatan PBB, persatuan buru babi. Peralatan yang digunakan cukup sederhana, seperti aneka benda tajam, antara lain tombak dan parang, ditambah anjing pemburu.

Biasanya, anggota PBB melalukan perburuan babi hutan sebulan sekali. Mereka memilih Minggu pertama sebagai hari berburu. Sebenarnya, berburu bukan pekerjaan mudah. Mereka harus naik dan turun gunung, masuk hutan keluar hutan. Pekerjaan yang cukup melelahkan. 

“Tidak jarang, para pemburu gagal melumpuhkan babi hutan, malah diserang balik oleh binatang buruannya. Intinya, untuk menghabiskan hama babi hutan, dengan cara berburu yang dilaksanakan oleh PBB. Jika PBB sudah lama tidak berburu, hubungi pengurusnya dengan cepat, “harap Sulaiman. (Nura)