Nanda Telambanua, atlet kelahiran Domo, Telok Dalam, Nias 11 April, 1965, adalah atlet angkat berat (lifter) pertama dari Indonesia yang memecahkan rekor angkatan untuk kejuaraan dunia. Putera keenam pasangan Ayah Salajobei dan Helena ini pergi merantau ke Kota Padang, Sumatera Barat pada usia 14 tahun.

Nanda muda dan belia memulai kariernya sebagai pemanjat kelapa, kuli angkut, dan juga bekerja di pabrik mie. Ketika itu, dia tak memiliki tempat tinggal tetap, sehingga dia harus sering tidur di emperan toko di Kota Padang.

Nanda memulai karier dengan menekuni karate dan tinju, namun tidak diteruskannya. Lalu mengikuti angkat berat dengan memasuki klub Hasta Yudha di Padang dengan pelatih atlet senior Edi Hermanto. Tahun 1982 adalah debut pertamanya di kejuaraan nasional angkat berat yang dilaksanakan di Yogyakarta. Hebatnya, Nanda langsung memecahkan rekor nasional di kelasnya.

Setelah itu, mulailah dia melanglang buana di kejuaraan internasional, termasuk Kejuaraan Dunia Angkat Berat Yunior di Perth, Australia, pada 20-23 September 1984. Di Perth,
Terpopuler di Indonesia [1967-1987]

Nanda berhasil memecahkan rekor dunia dengan total angkatan 500 kg. Rekor yang sebelumnya digenggam oleh R.Caputo dari Amerika Serikat, dengan total angkatan 482,5 kg.

Belum cukup juga, Nanda memecahkan rekor pada PON XI di Jakarta pada 1985, untuk angkatan 56 kg, squat (210 kg), deadlift (250 kg), dengan total angkatan 567,5 kg. Hingga saat ini, rekornya itu belum terpecahkan. Dia tujuh kali menjuarai kejuaraan dunia dan mencatatkan 10 rekor dunia. Di kejuaraan nasional, Nanda 11 kali menjadi juara satu, satu kali juara II dan satu kali dinobatkan sebagai The Best Lifter.

Nanda, ayah dari dua anak, Vivane dan Imelda Telambanua itu sempat melatih klub Hasta Yuda Padang (1996-1999), kemudian pindah ke klub PT Semen Padang dan melatih atlet-atlet muda. Dia juga ikut mempersiapkan atlet-atlet muda Sumatera Barat yang berlaga PON XXVIII bulan September 2012 di Pekanbaru, Riau.

Menurutnya Prestasi Sumbar di Pekan Olahraga Nasional  terus merosot. Sumbar pernah menempati rangking ke-7 di PON XI Jakarta tahun 1985. Sesudah itu Sumbar menempati posisi ke-18 pada PON XXVIII di Kalimantan Timur. Dan pada PON XXVIII di Riau September 2012 Kontingen Sumbar berhasil menggondol 12 medali emas dan 12 medali perunggu serta 25 medali perunggu. Sumbar berhasil memperbaiki peringkat ke posisi 11 dari sebelumnya berada di peringkat ke-16 pada PON XVII di Kalimantan Timur.

Nanda mengaku, dulu dia mengagumi dua kepemimpinan di Sumbar, yaitu Azwar Anas (Gubernur Sumbar 1977-1987) dan Syahrul Udjud (Walikota Padang 1983-1993). Keduanya adalah pemimpin yang dikagumi Nanda. “Mereka adalah pejabat yang sangat peduli dengan dunia olahraga. Mereka serius memotivasi atlet untuk meraih prestasi,” kata Nanda.

Setelah kedua pemimpin itu tidak lagi menjabat, perhatian pejabat pemerintahan terhadap para atlet di Sumbar sangat minim.

Tahun 1985, Nanda pernah mendapat bantuan rumah dari Azwar Anas, yang terletak di Parupuk, Tabing, Padang. Namun, rumah itu akhirnya dijual seharga Rp 12 juta. “Saya melapor menjual rumah itu kepada Pak Azwar Anas karena cukup jauh dari tempat latihan,” katanya.

Belum lama, tepatnya dalam peringatan Hari Olahraga Nasional 2012, Nanda mendapat hadiah uang senilai Rp 125 juta. Namun, penghargaan dari Kemenpora itu menurutnya tidak cukup untuk membeli rumah di kota Padang. Kendati demikian dia bersyukur pemerintah masih memperhatikan nasib mantan atlet di daerah.

Kini, Nanda tidak lagi sibuk berlatih. Dia sudah menjadi pelatih lifter di Padang dan menjadi pegawai di PT Semen Padang. Dia juga punya kesibukan lain menghilangkan kejenuhan setelah bekerja dan melatih. Nanda menghibur diri dengan memelihara burung beo di rumahnya. “Dulu saya memelihara berbagai jenis burung, sekadar untuk menyegarkan fikiran setelah bekerja,” tutup Nanda.

Prestasi:
Pemecahan rekor dunia kelas 56kg deadlift, squat, dengan total angkatan 500 kg di kejuaraan dunia angkat berat yunior II di Perth, Australia tahun 1984. Tujuh kali menjuarai kejuaraan dunia dan mencatatkan 10 rekor dunia. 11 kali menjadi juara nasional .(komenpora.go.id)