BIJAK ONLINE (LIMA PULUH KOTA)---Dipinggir jalan Tan Malaka, tepatnya di jorong Dusun Planduak, kenagarian Tabek Panjang, kecamatan Payakumbuh, kabupaten Lima Puluh Kota, terlihat seorang wanita tangguh sedang asik membuat tadia dinding, kandang ayam dan keranjang tomat.

Srikandi yang bernama Rika Gustika (39) itu, terus melanjutkan pekerjaannya, tanpa menghiraukan siapa yang datang, kecuali orang yang hendak membeli beraneka ragam kerajinan tanggannya, baru dia memandang dan menawarkan hasil pekerjaannya.

Ketika wartawan tabloidbijak.com mencoba menanyakan, kepada Rika Gustika, Sabtu (10/6), dia menyebutkan, pekerjaan ini saya gemari sudah lama, karena merupakan turun temurun dari seorang ibu bernama Eliwati (59). Lalu wanita cantik yang sudah menjanda sejak 7 tahun itu, menjelaskan, yah beginilah kehidupan kami, meskipun saya seorang wanita, tetap bekerja keras demi menghidupkan keluarga dengan 3 orang anak.

Kalu tidak bekerja, bagaimana menghidupkan keluarga, saya punya tanggung jawab, 3 orang anak bernama Bunga Utari (19), Aisyah Putri (17) dan Muthia Latifa (11), ketiganya masih sekolah, butuh biaya yang besar. Beruntung dua orang sekolah di Multi Plus Koto nan Ampek, disana sekolah tidak dipungut biaya, bahkan dia dilatih menjahit dan memperbaiki beragam merek hanphon.

Dua orang anak sekolah di Multi Plus itu, yakni  Bungga Utari setingkat SLTA kelas III dan Aisyah Putri setingkat SLTP kelas III, dia sekolah disana memang tidak membayar, Alhamdulillah, dia mendapat penghasilan ala kadarnya, dari hasil menjahit yang diajarkan pihak sekolah terkadang dia dikasih uang Rp100 ribu/minggu terkadang lebih. Sedangkan Muthia Latifa, baru mau naik kelas V SD, dia sekolah di SD 03 Tabek Panjang.

Ingin rasanya merobah nasib kearah yang lebih bagus lagi, tidak bekerja keras seperti sekarang ini, tapi apa boleh buat, yang namanya usaha selain ini sudah berkali-kali dicoba, bak kata orang alih profesi, tapi tidak juga berhasil. Kemudian dicoba pula pergi merantau ke Pekanbaru, Padang dan Bogor serta daerah lainnya, tetap saja nasib belum berobah dan kembali membuat tadia dinding dan kandang ayam serta kerajang tomat dikampung.

Hasil dari membuat tadia dinding ini, lumayan juga, rejekinya memang ibarat rejeki harimau, terkadang ada, terkadang kosong. Jika memang milik kita, bisa mendatangkan uang sekitar Rp300 ribu/hari, terkadang Rp50 ribu, parahnya lagi terkadang kosong alias nihil.

Dengan seringnya kosong itulah, saya selalu berpikir panjang, jika malam hari, ketika makan bareng bersama anak, dia bertanya, jadi orang kaya itu enak ya ma. Saya hanya bisa menjawab dalam hati. Sebab kami makan sering tak pakai lauk pauk, hanya sekedar pengganjal perut.

Sering saya mengusir kesepian, bercanda dengan anak-anak, suatu hari, ketika kami duduk didepan rumah, waktu itu listrik mati, dan kami dihampiri beberapa ekor kunang-kunang, secara serentak ketiga anak saya bertanya, mama, kunang-kunang ini kecil, tetapi bisa memberi caha besar.

“Terpikir bagi saya, suatu ketika nanti, usaha kecil-kecilan ini bisa juga besar, seperti kunang-kunang tersebut. Siapa tahu, dengan bekerja mengandalkan tenaga, menggunakan parang, pisau, palu ini akan merobah nantinya dengan menggunakan bolpoin (pena.Red). Nasib itu dapat berobah tentunya jika anak berhasil sekolah, “urai Rika Gustika.


Tadia dinding yang saya buat ini, bervariasi ada yang bewarna dan ada yang polos, harganya berwarna Rp65 ribu/helai sedangkan yang polos Rp50 ribu/helai. Bahan bakunya berupa bambu dibeli dari orang lain. Saya tak punya ladang, tak punya sawah dan tak punya apa-apa, kecuali tenaga, walaupun saya seorang wanita.
  
“Bertahun-tahun berusaha membuat tadia dindiang, memang belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah daerah atau lembaga keuangan leiannya. Meskipun demikian, saya tak patah arang berusaha, dengan pekerjaan ini, yang seharusnya dikerjakan seorang lelaki.Biarlah begini demi sibuah hati, “urainya lagi.
 
Menurut Rika Gustika, disela-sela membuat tadia dinding, hidup ini fakta, sejak bercerai dengan suami bernama “BI” 7 tahun silam, aku tak putus asa membesarkan 3 orang orang yang masih membutuhkan biaya sekolah. Hari ini memang gelap, siapa tahu nantinya, “habis gelap terbitlah terang”.
 
“Wanita tangguh ini juga memaparkan, lika-liku membesarkan 3 orang anak, jika dipikir-pikir sekedar makan 2 kali sehari dengan usaha ini, aku sanggup, tapi biaya sekolah yang sangat tinggi memang agak kalang kabut juga. Kemana kita harus mengadu, semua identitas yang saya miliki berbunyi miskin, seperti BPJS mandiri miskin, kartu miskin dan anakpun sekolah juga karena pengantar miskin dari Walinagari, “paparnya.(Nura)

google+

linkedin