JUDUL tulisan ini memang  tendensius dan emosional. Kenapa? Karena sebagai warga Kota Padang saya pun malu dan terusik karena saya pun diejek dan ditertawakan oleh rekan-rekan jusnalis yang berdomisili di Jakarta, Medan, Pekanbaru, Palembang, Jawa Timur  dan Makasar.

Kenapa saya malu dan terusik? Karena rekan-rekan tersebut menyebutkan kalau pemimpin di Kota Padang tak bermoral karena prilakunya tidak sesuai dengan filosofi Adat Basandi Syarak dan Syarak Basandi Kitabullah. Bahkan pemimpin Kota Padang, katanya munafik. Alasannya, karena pemimpin di Kota Padang ini membiarkan saja para poyok dan lonte menjajakan sek haram secara terselubung, seperti di kawasan Atom Shopping Centre, jalan Halii Goo atau Jalan Imam Bonjol. Bahkan, para pemimpin di Kota Padang ini, membiarkan pula hotel dijadikan sebagai tempat ajang berbuat zina bagi remaja dan mahasiswa. Sementara para pemimpin itu punya kuasa dan power untuk membrangus maksiat tersebut. 

Yang ironisnya lagi, kata rekan-rekan tersebut,  para pemimpin di Kota Padang ini juga membiarkan saja tempat hiburan malam tumbuh dan berkembang. Padahal, tempat karoke tersebut, tak hanya menjual minuman beralkohol, tapi juga jadi ajang transaksi narkoba dan sek. Yang memilukannya lagi, ternyata tempat maksiat tersebut ada  yang mengantongi izin yang dikeluarkan Pemko Padang. Aneh dan lucukan?. 

Jadi wajarlah kalau rekan-rekan jurnalis yang pernah sama-sama menjadi wartawan di Kompas Gramedia Grup meejek dan mempermalukan saya. Kenapa? Karena mereka tahu kalau saya alumni pesantren Thawalib Padang Panjang dan sarjana Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol. Jujur saya tak mampu menjawab ejekan mereka itu, karena mereka menyebutkan data dan fakta dari berbagai ajang maksiat di Kota Padang ini

Jadi, kalau di Kota Padang tak diterapkan Adat Basandi Syarak dan Syarak Basandi Kitabullah, ya sama saja dengan kota-kota besar lainnya di nusantara ini. Apa bedanya? 

Kemudian, kata Adat Basandi Syarak dan Syarak Basandi Kitabullah itu, tak usahlah disebut-sebut lagi dan biarkan saja generasi muda atau anak nagari Minang tak tahu apa itu ABS dan SBA tersebut. Kenapa? Karena bagi masyarakat Minang dalam melaksanakan Adaik Basandi Syarak dan  Syarak Basandi Kitabullah harus disimpulkan dengan kalimat  Syarak mangato Adaik mamakai. Artinya, agama Islam mengajarkan, memerintahkan menganjurkan. 

Sedangkan Adat melaksanakannya, dalam arti yang sesungguhnya bahwa Islam di Minangkabau diamalkan dengan gaya adat Minang. Jadi sangat jelas adat Minang dilaksanakan menurut ajaran Islam dengan landasan dan acuan dari Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad. Bahasa tegasnya, Adat Minangkabau Itu Adalah Agama Islam. 

Coba juga renungkan firmal Allah ini; “Janganlah kamu mencampur adukkan antara kebenaran dengan kebatilan” (Al Baqarah: 42).

Secara fakta, para pemimpin di Kota Padang ini masih saja mencampuradukan antara kebenaran dan kebathilan dengan membiarkan saja pengusaha menjual alkohol dan para poyok dan lonte menjajakan sek haram. Padahal, pemimpin itu tahu dan bahkan mengerti, judi, minuman keras, serta zina itu haram. Tapi kenapa kok diam.

Khusus masalah zina atau protitusi, seharusnya pemimpin di Kota Padang ini malu dengan sikap dan ketegasan Wali Kota Surabaya, Tri Rismahar yang akrap disapa Bu Risma. Kenapa? Karena Walikota Surabaya itu berani menutup tempat protitusi Gang Dolly yang merupakan tempat protitusi terbesar di Asia Tenggara ini. 

Yang hebatnya dan patut di puji, Walikota Surabaya itu  sadar kalau langkahnya menutup kawasan prostitusi itu mengundang kontroversi dan menghebohkan para poyok dan germo, serta bekingnya. Tapi, karena karena menyangkut hajat hidup banyak orang, serta berdasar peraturan daerah yang melarang orang menggunakan bangunan atau tempat untuk berbuat asusila, maka Walikota Surabaya itu bersikap dan bertindak. Padahal, warga Surabaya tak punya filosofi ABS-SBK. Aneh dan lucukan. 

Kini mumpung masyarakat Kota Padang lagi menimang-nimang calon walikota periode 2018-2023, ada baiknya juga diingatkan dan disadarkan, jangan sampai memilih walikota, yang tak berdaya menerapkan filosofi ABS-ABK, karena takut dengan pengusaha mata sipit, yang menghalalkan segala cara memperkaya diri dan menyogok penguasa.  

Kemudian kepada calon walikota yang berminat maju di Pilwako, haruslah  punya sikap yang tegas dan keras dalam memberantas penyakit masyarakat. Maksudnya, walikota mendatang jangan sampai ada toleansi dengan germo dan pengusaha penjual alkohol. 

Sedangkan mengenai bagaimana cara memberantas maksiat yang sesuai A-Quram dan hadist Nabi, serta adat Minangkabau, tentu kita serahkan kepada ahli atau pakarnya. Yang jelas Walikota Padang mendatang harus anti maksiat. Titik.(Penulis wartawan tabloid bijak dan padangpos.com)

google+

linkedin