Tampaknya, terpilih Kota Padang sebagai penerima Piala Adipura, 2017 ini terlalu digadang-gadangkan pemberitaannya. Bahkan, Wakil Ketua DPRD Kota, Wahyu Iramana Putra atas nama lembaga dewan yang terhormat, juga ikut mengeluarkan kata-kata pujian, dengan kalimat keberhasilan membawa kembali Piala Adipura, sejak 2009 lalu itu. Tapi sayangnya politisi dari Partai Golkar ini tidak merinci keberhasilan apa yang telah dilakukan Pemko Padang, yang dipimpin duet Mahyeldi-Emzalmi. 

Yang menariknya lagi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang Al Amin sengaja menyambut kedatangan Piala Adipura bersama Walikota Padang, Mahyeldi, di Bandara Internasional Minangkabau, Jumat, 4 Agustus 2017  dengan membawa rombongan petugas kebersihannya.Selanjutnya dikatakan pula kalau Piala Adipura diarak keliling kota. Wah hebat.

Kesan yang ingin dimunculkan, Al Amin, ingin dikatakan  telah berhasil membersihkan Kota Padang dan lupa kalau karyawan dibawah jajaranya itu, lebih banyak memakan "gaji buto" dari pado bakarajo. Datang kekantor, teken absen dan menghilang mencari tambahan balanjo. 

Sebenarnya, banyak persoalan yang ada di Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang itu. Sampai sekarang, tak ada informasi ke publik, berapa dana restribusi sampah yang dipungut ke masyarakat setiap bayar kewajiban di PDAM. Kemudian, berapa pula gaji honor petugas dijajaran Al Amin tersebut. Berapa jumlah tenaga kerjanya. Mesteriuskan?

Tanpa bermaksud membanding-bandingkan walikota, masyarakat Kota Padang saat dipimpin Syahrul Ujud, ikut berpatisipasi aktif membersihakn lingkungan. Di Era Mahyeldi, tak terlihat secara langsung partipasi masyarakat. Yang ada hanya partisipasi camat dan lurah dengan staf dan karyawannya. Termasuk juga RT dan RT. Masyarakat bisa dihitung dengan jari

Jadi kalau ada masyarakat yang berpandangan dingin terhadap keberhasilan Kota Padang mendapatkan Piala Adipura, ya wajar-wajar saja, karena mereka tak terlibat benar dalam membersihkan lingkungannya. Bahkan sampai sekarang semua sungai yang membelah Kota Padang menjadi saluran membawa sampah ke laut. DI Tapibandabakali misalnya, setiap airnya besar, selalu dipenuhi oleh sampah, baik sampah rumah tangga, maupun sampah pabrik. Airnya pun tiga warna yang berubah sesuai kondisi. Kehijau-hijau, hitam dan kuning.

Okelah. Kini Kota Padang berhasil lagi meraih Piala Adipura yang menjadi target bagi semua kepala daerah. Persoalan itu karena Piala  Adipura sudah dianggap  salah satu lambang kesuksesan seorang kepala daerah, sehingga memunculkan kompetitif bagi semua kepala daerah.
Penghargaan Piala Adipura ini diselenggarakan Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Program pemberian penghargaan Adipura dilaksanakan setiap tahun sejak 1986. Walaupun sempat terhenti pada awal era reformasi yaitu tahun 1998. Kemudian program Adipura kembali dicanangkan di Denpasar Bali pada tanggal 5 Juni 2002 dan terus berlanjut hingga sekarang.

Kepala daerah yang mendapatkan Piala Adipura, dianggap berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan. Ada dua indikator pokok dalam penilaian. Yang pertama indikator kondisi fisik lingkungan perkotaan dalam hal kebersihan dan keteduhan kota. Yang kedua, indikator pengelolaan lingkungan perkotaan (non-fisik), yang meliputi institusi, manajemen, dan daya tanggap.

Lantas bagaimana pula kalau Piala Adipura dikaitkan dengan sampah masyarakat? Cukup miris juga kita melihat dan mendengarnya. Kenapa? Karena penguasa diderah ini seakan basipakak jo basibanak saja dengan kehidupan malam di Kota Padang. Bahkan, sampah-sampah masyarakat tersebut masih seenaknya atau bersilantas angan saja menjajakan sek haram di Kawasan Pondok dengan tempat mesum yang dilengkapi dengan lampu kelap-kelip.  

Kini, Kawasan Pondok sebagai kawasan maksiat, sudah tak asing lagi bagi masyarakat yang hobi bermaksiat, baik menenggak alkohol, maupun bermain esek-esek. Bahkan kebaradaan salon plus, seakan diangap dingin oleh penguasa. Untuk itu wajar, jika ada yang menduga-duga, kalau penguasa di Kota Padang inilah keciprat ampow dari bisnis lendir tersebut.

Entah sampai kapan penguasa di Kota Padang ini berhasil pula membersihak Kota Padang dari sampah masyarakat tersebut. Kita tunggu saja.(Penulis waratwan tabloidbijak dan padangpos.com) 

google+

linkedin