BIJAK ONLINE (LIMA PULUH KOTA)---Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) kabupaten Lima Puluh Kota gelar lomba baca puisi tingkat SLTA se-kabupaten Lima Puluh Kota dan kota Payakumbuh, serta work shop baca puisi di gedung Sago Bungsu Tanjung Pati, Kamis (10/8).

"Puisi adalah rangkaian kalimat yang tersusun penuh makna dan sarat pesan moral yang tersusun dalam kalimat dengan rangkaian kata yang indah.  Sebagian pesan-pesan dan semangat juang kemerdekaan republik ini, berasal dari kalimat dan kata-kata puisi," kata Wakil Bupati, Ferizal Ridwan.

Menurut wabup, hakikatnya puisi itu adalah lontaran kalimat dari hati sebagai wujud syukur. Unsur seni budaya atau karya sastera itu harus terus dilestarikan dan dikembangkan. Karenanya, kita sangat mendukung kegiatan work shop baca puisi ini agar siswa di Kabupaten Limapuluh Kota benar-benar mampu meningkatkan  kemampuannya dalam membaca dan memaknai puisi,” jelas Ferizal.

Dikatakan Ferizal, tempo lalu banyak tokoh yang sukses berdakwah dengan puisi, terutama para tokoh yang berasal dari kawasan timur termasuk dari Minang Kabau. Bahkan orang Minang Kabau cukup dikenal berkomunikasi dengan kata-kata kiasan, pantun dan kalimat-kalimat puisi.

“Dari sederet tokoh pejuang di republik ini, umumnya mereka sukses menyebarluaskan pesan-pesannya melalui kata-kata puisi. Kita berharap acara ini bisa menjadi ajang menyalurkan dan mengembangkan bakat generasi muda agar mereka juga mahir berpuisi seperti para tokoh terdahulu,” ujar  Ferizal.

Menurutnya, sebagian semangat juang yang digelorakan para tokoh buat kemerdekaan republik ini, berasal dari pesan-pesan puisi. Salahsatu pesan tersebut adalah kalimat “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya” seperti yang ada dalam bait lagu Indonesia Raya. 

Kemudian, juga ada kalimat-kalimat puisi Tan Malaka seperti “Merdeka 100 Persen” yang masih relevan hingga saat ini.  Begitu pula dengan puisi Safrudin Prawira negara yang menyebutkan “jangan kehilangan objektifitas sekalipun terhadap orang yang tidak disukai”.

Lebih lanjut Ferizal berharap pelaksanaan work shop ini dilakukan di tempat-tempat yang lebih bermakna dan bersejarah seperti di rumah sastrawan Khairil Anwar  atau pahlawan Tan Malaka.

“Jika dilaksanakan di rumah Khairil Anwar, kita berharap pesertanya lebih terinspirasi, lebih menjiwai dan mengenal siapa itu Khairil Anwar, begitu juga dengan Tan Malaka dan tokoh-tokoh lainnya yang ada di daerah ini. Oleh karena itu DPK tidak hanya menyimpan atau mengarsipkan buku-buku, melainkan membuat inovasi agar buku-buku itu dibaca dan diminati generasi terutama kalangan siswa, “tutur Ferizal.

Sebelumnya Kepala DPK Radimas, menyebutkan, kegiatan inidiikuti 50 siswa asal 25 SLTA di daerah ini, antara lain bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, menumbuhkembangkan kegemaran membaca, menarik minat baca siswa terhadap karya sastra. 

Selain itu juga buat mengenalkan karya penyair-penyair Indonesia, khususnya penyair dari kabupaten Limapuluh Kota dan kota Payakumbuh, serta untuk mengasah keterampilan  siswa membaca puisi dan karya sastera. “Sedangkan materi work shop berupa cara membaca puisi yang baik dan sesuai ketentuan membaca puisi, “ujarnya. (ada)