Dokumen tabloidbijak.com
RODA  transportasi massal saat ini berkembang ke era modern, semuanya bisa dilakukan serba praktis dan memanjakan pelanggan. Cukup dengan menelpon dari rumah, angkutan sudah datang menjemput dan mengantarkan pelanggan ke daerah tujuan. Bahkan yang saat ini menjadi buah bibir masyarakat di ibukota, adanya ojek yang bisa dipesan secara online, tak perlu lagi bermenung dipinggir jalan bersahabat dengan debu dan panas, karena pelanggan cukup memesan melalui aplikasi di ponsel pintarnya. Treengg.. ojek pun datang.

Sementara itu, ketika semua orang di nusantara membicarakan transportasi massal yang cepat, nyaman dan ramah lingkungan, maka masih di belahan bumi lain di Indonesia, tepatnya di Kecamatan Tigo Lurah Kabupaten Solok Sumbar, masyarakatnya masih menggunakan transportasi tradisional jika hendak mengangkut barang. Pastinya, mereka tak pernah kena macet, tidak bising dan yang pasti sangat ramah lingkungan.

Alat transportasi ini disebut Kudo Baban atau kuda beban. Disebut begitu, karena memang masyarakat mengandalkan kuda untuk mengangkut beban kebutuhan hariannya. Ukuran kudanya juga tidak terlalu besar, tak sebesar kuda pacu di gelanggang Ampang Kualo atau di gelang­gang Bancah Laweh Padang Panjang. Namun jangan salah, kalau soal tenaga, kudo baban tak kalah dengan kendaaraan lain. Karena untuk menempuh jarak sekitar 14 Km dari pusat Kecamatan Tigo Lurah di Nagari Batu Bajanjang, jika mengandalkan kudo baban maka bisa menga­ngkut barang setidaknya antara 80 kg hingga 150 kg.

Bukan karena ingin mempertahankan tradisi, tapi memang hanya kudo baban lah yang bisa diandalkan masyarakat nagari yang berpenduduk sekitar 2.662 jiwa dan berada di ujung timur Kabupaten Solok ini.

Berdasarkan data Kabupaten Solok dalam angka, Nagari Garabak Data merupakan nagari yang terluas di Kabupaten Solok. Karena batas wilayahnya langsung berbatasan dengan wilayah Silago di Kabupaten Dharmasraya, Lubuak Tarok di Kabupaten Sijunjuang, dan Pakan Rabaa di Kabupaten Solok Selatan. Sejauh ini untuk akses jalan menuju ke Batu Bajanjang saja sudah bisa dilalui dengan kendaraan bermotor dan kendaraan roda empat melalui rute Nagari Sirukam Kecamatan Payung sekaki, atau melewati rute dari Nagari Sungai Nanam, namun jauhnya perjalanan antara Sirukam menuju Nagari Batu Bajanjang yang merupakan pusat Kecamatan Tigo Lurah, diperkirakan sekitar 50 KM.

Kemudian jalan bisa dilanjutkan mempergunakan kendaraan roda empat dengan kondisi jalan yang memprihatinkan. Jalan lain yang bisa dilewati adalah melalui Nagari Talang Babungo di Kecamatan Hiliran Gumanti, yang berjarak sekitar 12 KM dari Alahan Panjang.

Sedangkan jarak tempuh dari Talang Babungo ke Garabak Data sekitar 28 Km melalui rute perjalanan yang cukup berat. Jika ingin berjalan kaki, diperkirakan sekitar 7 atau 8 jam perjalanan. Sedangkan jika mempergunakan ojek, hanya memerlukan waktu sekitar 3,5 jam, tapi ongkosnya bisa Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu. Begitupun jika dari Batu Bajanjang ke Garabak Data.

Hampir setiap hari media massa mengabarkan kondisi “Kota di Dalam Hutan” itu tapi belum ada tindaklanjut yang memuaskan dari Pemerintah, baik Pemprov Sumbar maupun Pemkab Solok meskipun Gubernur Irwan Prayitno pada kunjungannya 6 Juni 2015 le Garabak Data telah berjanji akan membantu.

Hingga kini, selain alat transportasi dan akses jalan yang sulit, masyarakat setempat juga memerlukan tenaga medis yang siaga di kawasan itu. Hal itu menjadi sangat penting lantaran dikhawatirkan apabila tenaga medis tidak ada lalu ada ibu rumahtangga yang mau melahirkan dan butuh penanganan medis tentu bisa saja tidak tertolong.

Merampung Pekerjaan 

Tidak mengherankan apabila anak-anak sebagai generasi penerus bangsa di Tigo Lurah hafal nama Gubernur Sumbar dan Bupati Solok. Namun, miris mendengar kabar bahwa tidak satupun anak-anak disana yang hafal wajah pemimpinnya padahal setiap ramadhan datang selalu ada rombongan team safari ramadhan kenagari itu, bahkan Pemkab Solok, anggota DPRD Kab. Solok, pejabat SKPD dan wartawanpun turut hadir. ―― entah karena alasan apa, keberadaan wartawan sebagai wakil rakyat tanpa dewan menjadi hal yang biasa hingga janji untuk mengeluarkan nagari terisolir di Kecamatan Tigo Lurah makin hari seolah hilang seiring luputnya mobil plat merah keluar dari tempat itu. Bukan berarti wartawan perlu ditakuti oleh pejabat daerah itu tapi sebagai pejabat publik tentu mereka memahami betul posisinya saat berjanji dihadapan publik didepan awak media.

Di Arosuka, ibukota Kabupaten Solok pejabat dan politisi yang duduk di kursi mereka jelas telah bekerja. Namun, hingga saat ini belum tampak keseriusan Pemkab Solok untuk merampungkan pekerjaan sesuai janji politik “Mewujudkan Kabupaten Solok yang maju dan mandiri menuju masyarakat madani berdasarkan falsafah Minangkabau Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.”

Belum tampak keseriusan bukan berarti tidak peduli, masih ada waktu sekitar 4 tahun menjelang masa bhakti kepala daerah dan wakil kepala daerah berakhir guna mewujudkan kemajuan nagari terisolir di Kabupaten Solok. Mari kita berikan masukan kepada Pemerintah Kabupaten Solok , aspirasi masyarakat Kecamatan Tigo Lurah perlu diperkuat melalui partisipasi mereka dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrembang) awal tahun 2018 mendatang dan minta pertanggungjawaban janji politik wakil rakyat untuk mendesak Pemkab Solok agar memprioritaskan pembangunan nagari terisolir di Kabupaten Solok yang juga sebagai tempat keberadaan icon daerah “Ayam Kukuak Balenggek”. (Penulis wartawan tabloidbijak.com)







google+

linkedin