BIJAK ONLINE (Solok)-Petani bawang di kota dan Kabupaen Solok mempertanyakan komitmen pemerintah yang berjanji akan menstabilkan harga jual paska panen, tapi faktanya harga bawang Rp 8.000  per-kg dan anggota DPRD Kabupaten Solok Cuek..

"Kini harga jual Rp 8.000 bukan membuat kami beruntung tapi buntung," kata salah serorang petani asal Sungai Nanam, yag minta namanya jangan ditulis dengan pertimbangan politis.

Seharusnya, kata sumber tersebut, anggota DPRD Kabupaten Solok ikut mengawasi kinerja pihak eksekutif dalam menstabilkan harga jual petani bawang.  "Kemana anggota DPRD Kabupaten  Solok, belum ada upaya mereka menstabilkan harga bawang maupun mempertanyakan upaya Pemkab Solok yang menyebut bawang kita akan dibeli oleh Bulog dengan harga Rp 15.000, per-kg," ungkap petani itu lagi.

Menurutnya, selain harga bawang yang turun drastis, harga pupuk SP36 juga sangat mahal dan sulit untuk diperoleh. "Kini, harga  pupuk SP36 dijual Rp.300.000 satu karung, itu pun langka dan kami kesulitan memperoleh pupuk, sebaiknya pupuk Subsidi tidak dikelola oleh distributor melainkan diserahkan ke koperasi saja," jelas petani itu.

Sebelumnya, Pemkab Solok beberapa waktu lalu menjanjikan kepada petani bawang kalau Bulog akan membeli bawang petani,  namun sampai kini belum ada satu pun bawang petani dibeli Bulog. "Setahu saya, sampai saat ini belum ada Bulog beli bawang petani, padahal itu diberitahukan ke petani kita , kini harga bawang turun drastis Bulog dan Pemkab lepas tangan jadi hanya sebatas mimpi saja," jelas Kasmudi, Anggota DPRD Kab. Solok Fraksi Partai Golkar asal Sungai Nanam Kecamatan Lembah Gumanti, Senin, 18 September 2017.

Wabup Solok yang sudah beberapa kali ke Bulog untuk membahas persoalan bawang merah ini beberapa waktu lalu mengatakan bawang akan dibeli Bulog namun petani harus sabar karna masih ada proses yang kita lalui. "Saya harap petani bisa bersabar karena untuk bawang ini saya sudah datang ke Perum Bulog di Jakarta dan mereka siap membeli bawang kita," ungkap Wabup beberapa waktu lalu.

Secara terpisah, anggota DPD RI Asal Solok H. Nofi Candra, SE melalui sambungan selullar mengatakan, orangtuanya juga sudah menanam bawang dikawasan Rimbo Data seluas 2 hektare. "Saya sedang memimpin rapat di Manado tapi soal harga bawang saya sudah datang ke Bulog dan sedang berusaha untuk ke Bulog lagi. Sekarang, selain petani disana ibu saya juga berladang di Rimbo Data seluas 2 hektare. Saya sempat dimarahi ibu saya karna belum mampu mengupayakan harga bawang ini," katanya. (Risko Mardianto)

google+

linkedin