BIJAK ONLINE (LIMA PULUH KOTA)—Sejumlah masyarakat Kenagarian Manggilang, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, kabupaten Lima Puluh Kota, minta kepada Gubernur Sumatera Barat, agar empat hari pasca luapan sungai Batang Manggilang, dihentikan aktivitas tambang yang meraja lela disana.

Hal tersebut disampaikan Afrizal Abbas, salah seorang tokoh masyarakat Nagari Manggilang, kepada sejumlah wartawan di Payakumbuh, kemarin, "Setahun terakhir, sudah dua kali bencana banjir melanda nagari kami. Ini pasti ada hubungannya dengan aktifitas tambang selama ini,"jelasnya.

Sungai Batang Talagiri di Nagari Manggilang, yang merendam puluhan rumah warga disana. Kini kondisinya mulai normal. Korban luapan air  dua sungai yang membelah Nagari Manggilang itu, terus membersihkan rumah dan peralatan rumah tangga mereka dari lumpur.

Terlepas dari meluapkan sungai Batang Manggilang dan sungai Batang Talagiri, sejumlah masyarakat setempat menduga bencana yang silih berganti melanda Manggilang, akibat adanya aktifitas tambang di nagari tersebut.

Ketua Forum Komunikasi Peduli Nagari tersebut berpendapat, adanya penebangan pohon dan tumbuhan di perbukitan dalam membuka lahan tambang, sehingga daya resap air hujan ke tanah  menjadi berkurang. Air hujan malahan langsung mengalir ke daratan rendah menuju ke sungai. Apalagi tinggi nya curah hujan, sehingga sungai dengan lebar yang kecil tak mampu menampung aliran air dari perbukitan dan terjadilah luapan.

"Ini yang terjadi selama ini. Sungai kecil tapi  volume air yang datang akibat tidak teresapnya hujan oleh tanah sehingga terjadi luapan,"kata Afrizal Abbas. Dengan kondisi itu, putra Manggilang tersebut berharap kepala pemerintah terutama Gubernur Sumbar untuk menghentikan aktifitas tambang yang ada di Nagari Manggilang.

"Apakah itu perusahaan yang punya izin atau tidak, mohon untuk berhenti beroperasi di Manggilang. Ini demi keselamatan warga Manggilang,"pintanya.

Yang dirasakan warga Manggilang saat ini, ucapnya, masih dihantui bencana. Tak hanya luapan air sungai saja yang ditakuti warga. Melainkan bencana banjir bandang yang dikhawatirkan warga dan bisa saja terjadi kapanpun di Manggilang. "Mohon, hentikan lah seluruh tambang. Berizin atau tidak. Ini demi anak cucu kami, warga Nagari Manggilang,"pungkas Afrizal Abbas.

Sementara perangkat Nagari Manggilang, Rabaini mengatakan, pasca luapan air yang terjadi 4 hari lalu, aktifitas warga kembali normal. Aliran sungai Batang Manggilang dan sungai Batang Talagiri juga sudah surut dan kembali seperti biasa.

Terkait luapan kedua sungai akibat adanya aktifitas tambang, dibantah oleh Rabaini. "Luapan air sungai bukan sepenuhnya akibat dari aktifitas tambang. Ada faktor lain sehingga aliran air jadi tersendat dan meluap sampai kerumah rumah warga,"jelasnya.

Menurutnya, aktifitas tambang berpenguh sangat kecil terhadap bencana yang terjadi di Manggilang. Untuk saat ini, ucapnya ada 8 perusahaan tambang di Manggilang. Dari 8 tersebut, 3 yang masih beroperasi. Yakni PT ATC, PT DSP, PT Koral Kampat. Sedangkan perusahaan tambang lainnya, yakni PT Dempo, PT SKM, PT SJP, PT MUM dan CV Rahma tidak beroperasi lagi.

"Ada sekitar 8000 ton batu split hasil tambang yang dikeluarkan dari Manggilang oleh ketiga perusahaan tambang yang beroperasi. Perusahaan tambang tersebut setidaknya ada 3 kali dinamid yang diledakkan untuk pemecah bongkahan batu di Manggilang," terang Rabaini. (ada)

google+

linkedin