KEPEDULIAN Rhian D'Kincai tentang Tour de Singkarak, yang akan dilaksanakan di Ranah Minang, 18-23 November  patut juga dipuji dan dikritisi. Kenapa? Karena Rhian D' Kincai mungkin lupa atau tak punya data tentang penujukan Sumatera Barat sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) Indonesia bersama empat propinsi lainnya, yang katanya sangat tertinggal jauh. 

Tapi sangat disayangkan, dua  provinsi lainya yang dimaksud tidak diungkapkan dalam tulisannya. Tapi anehnya, Rhian D'Kincai memuji Sumatera Utara yang katanya telah menjadi destinasi wisata utama di Sumatera. Tapi nama dua daerah lainnya, entah kenapa tak ada? Atau tak punya data he he he.

Kemudian Rhian D'Kincan menyimpulkan, salah satu penyebab sektor pariwisata jalan ditempat, karena menduanya sikap pemerintah diawal perkembangan dan pengembangannya. Pemerintah yang dimaksudnya, ketika Gubernur Sumbar waktu itu Hasan Basri Durin yang  pernah berkata;"Kalau pariwisata akan merusak tatanan budaya, untuk apa sektor ini dikembangkan di Sumbar." 

Dari kutipan perkataan mantan Gubernur Sumbar Hasan Basri tentang pariwisata rasanya tak nyambung dengan Tour de Singkarak. Kenapa? Karena kekhawatiran mantan gubernur itu lebih membentengi budaya Minangkabau dari budaya asing, yang berbau sek, serta berpakaian bagaikan suku anak dalam. Sementara keingiannya waktu itu  wisata  yang  client tourizen. 

Yang anehnya lagi, Rhian D'Kincai menyimpulkan kondisi waktu itu terjadi pro dan kontra yang katanya mencuat di berbagai mass media. Sayangnya  tanpa didukung data berupa hasil voling atau hasil kajian ilmiah dari pakar-pakar.  

Yang lucunya lagi, Rhian D'Kincai menyimpulkan;"Karena system sentralistik pemerintahan saat itu, mau tidak mau Pemprov. Sumbar tetap harus mengembangkan pariwisata." Rasanya tak nyambung dengan Tour de Singkarak. Ha ha ha ha


Yang hebatnya, Rhian D'Kincai menilai;"Dinas Pariwisata yang mengelola sektor ini keberadaannya boleh dikatakan sekedar ada, terutama di daerah kabupaten dan kota yang ada di Sumbar. Bahkan sudah menjadi rahasia umum pimpinannya adalah orang-orang buangan dari lembaga lain, baik untuk tingkat propinsi maupun daerah tingkat dua. Hal itu tentu saja membuat perkembangan dan pengembangan pariwisata di Sumbar juga asal ada atau tidak dikelola secara profesional sebagaimana di daerah lain, kecuali Kota Bukittinggi yang kini menjadi sentra pengembangan pariwisata di Ranah Minang." 

Ungkapan Rhian D'Kincai ini, apa hubungannya pula dengan Tour de Singkarak. Kesannya bagi Rhian D'Kincai hanya Kota Bukittingi yang menjadi sentra pengembangan pariwisata di Ranah Minang. Padahal kini, Kabupaten Pesisir Selatan dengan keindahan Pantai Cerocok telah membuat jalan Padang-Painan macet total setiap Sabtu dan Minggu, atau setiap hari besar dan libur idil fitri.   

Selanjutnya Rhian D'Kincai menyimpulkan pasca reformasi dan berlakunya UU Otonomi Daerah, yang katanya ada beberapa daerah di Sumbar mulai menjadikan sektor pariwisata sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan membangun sarana dan prasarana penunjang untuk meberikan nilai tambah. Diantaranya membangun Water Boom dan sarana lainnya untuk menarik kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara. Dua kota yang terbilang aktif melaksanakan pengembangan pariwisata ini adalah Padang Panjang dan Sawahlunto.

Rasanya pujian Rhian D'Kincan terhadap wisata Padang Panjang dan Sawahlunto dengan water boomnya sangat berlebihan. Kenapa? Karena Rhian D'Kincai mengatakan adanya kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara, tapi sayangnya tampa data. 

Kemudian Rhian D'Kincai memuji juga Tour de Singkarak sebagai major event pariwisata yang bertaraf internasional. Bahkan, katanya, Tour de Singkarak sebagai Iven olahraga pariwisata yang semula (2009) direncanakan  hanya sebagai ajang nostalgia para veteran pembalap, berkembang menjadi iven internasional setelah Dirjen Pemasaran Pariwisata waktu itu (Sapta Nirwandar) melihat potensi dan keindahan alam Sumatera Barat saat mewakili Menteri Kebudayaan dan Pariwisata membuka Festival Singkarak & Danau Kembar yang diselenggarakan Pemkab. Solok.

Rhian D'Kincai menilai kalau pelaksanaan Tour de Singkarak memberikan dampak siginifikan untuk pertumbuhan ekonomi masyarakat Sumbar, meskipun Tour de Singkarak masih dibiayai oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif plus APBD Sumbar dan beberapa Kabupaten/kota yang menjadi route, Tour de Singkarak. Bahkan Rhian D'Kincai memberikan pujian terhadap Tour  de Singkarak yang  telah menjadi iven pariwisata yang telah dikenal masyarakat dunia. 

Tapi anehnya lagi, Rhian D'Kincai juga memberikan penilaian tentang dampak Tour de Singkarak, yang katanya selama beberapa hari setiap iven ini digelar masyarakat harus rela perjalanannya terganggu dan terjebak macet. Kata Rhian D'Kincai salah satu penyebabnya adalah terganggunya aktivitas masyarakat akibat sterilisasi jalan pada jalur yang dilintasi pembalap,. Untuk itu perlu kerja keras penyelenggara, terutama yang terkait dengan pengamanan route untuk mengatasi masalah ini.

Tahun ini Grand Start Tour de Singkarak dilaksanakan di Kota Batusangkar, tepatnya di Istano Basa Paruyung yang pengembangan sektor kepariwisataannya terbilang cukup menonjol.  Sementara itu Danau Singkarak dimana ide iven ini bermula  dijadikan route dan start salah satu ettape.  Hal ini bisa dikatakan kerugian bagi Kab. Solok, khususnya Dinas Pariwisata Kab. Solok dalam perkembangan dan pengembangan kepariwisataan.

Masalah promosi Tour de Singkarak, Rhian de Kincai mengkritisi panitia pelaksana Tour de Singkarak, baik untuk tingkat pusat maupun tingkat daerah, yang kurang profesional dalam masalah informasi dan promosi. Katanya, sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Kini,  tak banyak terlihat spanduk atau baliho Tour de Singkarak 2017 di berbagai kota yang dilalui. Selain itu di media elektronik nasional iven ini tak lagi menjadi berita utama, pada hal panitia pusat memfasilitasi wartawan media cetak dan elektronik pusat. Sementara itu wartawan media local hanya difasilitasi seadanya walau merekalah yang paling banyak menulis tentang Tour de Singkarak. Kesannya Rhian D'Kincai mengingatkan pihak panitia untuk profesional dalam mengajak wartawan.

Diakhir tulisanya, Rhian D'Kincai mempertanyakan."Akankah pembalap dari Indonesia bisa berbuat lebih banyak dari sebelumnya?" Kita tunggu hasilnya he he he  (Penulis wartawan tabloidbijak).

google+

linkedin