TABLOIDBIJAK.COM (Kota Pariaman)--Musabaqah Tilawatil Qur'an Nasional ke-XXXVII Tingkat Sumatera Barat, tidak hanya dirasakan pedagang kuliner Kota Pariaman saja. Namun juga dirasakan pedagang cenderamata keliling yang berjualan di lokasi lomba berlangsung.

Salah satunya dirasakan Zulhaimi Lhatif (53) tahun. Pria paruh baya ini terlihat menggelar selembar plastik ukuran 2x1 meter di halaman depan Sport Hall St.Rajo Bujang, Kelurahan Karan Aur.

Dengan cekatan Zul menyusun berbagai cendera mata, mulai dari pulpen, mainan kunci dan plakat plastik maupun kayu. Semua cenderamata tersebut memiliki logo maupun tulisan yang menandakan acara MTQ nasional ke-37 tingjat Sumbar di Kota Pariaman.

Pria empat anak tersebut rupanya telah melakoni profesinya sebagai pedagang cenderamata keliling sejak tahun 1995 lalu. "Saya telah berjualan seperti ini sejak tahun 1995, dan selalu berpindah dari iven ke iven dan dari kota ke kota", ujarnya sambil merapikan dagangannya.

"Dalam satu tahun saya bisa berjualan minimal 12 kali, tergantung iven yang ada. Biasanya awal tahun iven tidak terlalu banyak, namun dipenghujung tahun sangat banyak", sambungnya.

Sekali iven, Zul mampu meraup omset dari berdagang cenderamata hingga 7 juta bila hanya tingkat Sumbar. Jika ivennya tingkat nasional bisa mencapai 15 juta.
Biasanya sekali iven berlangsung paling lama satu minggu.

Zul tidak hanya berkeliling di Sumbar saja, namun kita-kota di luar Sumbar pun menjadi incarannya. "Baru-baru ini saya "manggaleh" di iven PAI 2017 di Banda Aceh", ujarnya.
Hampir semua provinsi di Pulau Sumatera sudah dikunjunginya, bahkan beberapa kota di Pulau Jawa.

Rata-rata cenderamata yang dijualnya seharga 5 ribu per item nya. Dan Zul menjual dengan harga yang sama disetiap lokasi iven. (eri/amir)

google+

linkedin