BIJAK ONLINE (PAINAN)-Kasus pelecehan seksual anak dan kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Pesisir Selatan (Peasel) tercatat nomor dua tertinggi di Sumatera Barat (Sumbar), setelah Kota Padang.

"Ya, setiap tahun angkanya hampir 200 kasus. Sementara hanya sedikit yang sampai pada proses peradilan," kata Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Sosial, Loli Novita.

Berdasarkan data Dinas Sosial Kabupaten Pesisir Selatan, pada 2014 tercatat sebanyak 197 kasus dan turun tipis menjadi 183 kasus pada periode 2015.

Kemudian pada 2016 kembali mengalami kenaikan menjadi 190 kasus. Sedangkan hingga medio (Juli) 2017 sudah mencapai 114 kasus.

Ia menerangkan, tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan pelecehan seksua pada anak dipicu beberapa faktor.

Pertama, rendahnya perekonomian sebagian besar korban, sehingga rentan terhadap intimidasi dari sisi ekonomi.

Faktor kedua, rendahnya pendidikan keluarga, sehingga mudah terpengaruh. Ia mencontohkan, sebagian besar, terjadi di daerah-daerah terpencil.

Sedangkan yang ketiga adalah pengaruh dari perkembangan teknologi informasi. "Ini kasusnya terjadi pada para siswa," tuturnya.

Ia mengakui dari semua persoalan yang ada, hanya sedikit atau sekitar 20 persen yang sampai ke pengadilan. Selebihnya hanya sampai pada tahap penyelidikan dan penyidikan saja.

Sementara, saat ini upaya yang dilakukan pemerintah daerah baru sebatas sosialisasi pada sekolah-sekolah.

Kendati demikian, tambahnya, ke depan pihaknya bakal membuat Satuan Tugas (Satgas) di setiap kecamatan. Dengan demikian, pengaduan terkait persoalan pelecehan seksual anak dan kekerasan terhadap perempuan bisa segera ditangani.

"Menurut pihak Kepolisian, persoalan susahnya dalam pengungkapan kasus tersebut adalah ketiadaan saksi, sehingga susah untuk digiring ke ranah hukum," sebutnya.

Untuk itu, ia menambahkan agar masyarakat tidak takut menjadi saksi jika terjadi pelecehan seksual pada anak dan kekerasan terhadap perempuan. (Teddy Setiawan)

google+

linkedin