BIJAK ONLINE (PAYAKUMBUH)---Rosnawati (49) merupakan salah seorang warga kelurahan Tanjung Gadang, kecamatan Payakumbuh Barat, mengeluah terhadap kehadiran warnet yang kurang memantau konsumennya seorang pelajar sering tidur dihadapan komputer.

Akibat dari itu, Rosnawati yang memiliki seorang anaknya masih duduk dibangku kelas II SLTA kepada wartawan, baru-baru ini mengatakan, anaknya sering terlambat pulang dan sering pula pulang pagi, bahkan acap pula tidur diwarnet. Yang jadi pikiran baginya apakah warnet bukanya sampai pagi atau 24 jam, tanya Rosnawati?

Diakui Rosnawati, dia sudah berkali-kali menegur anaknya agar jangan bermain diwarnet hingga sampai malam, apalagi sampai pagi. Dia tidak menyalahkan pengusaha warnet, tapi tetap menyalahkan anaknya. Kalau marah kepada anak sudah cukup rasanya. 

“Sebaliknya, jika warnet buka sampai jam 23.00 Wib, tentu anak-anak tidak bermain diwarnet hingga larut malam. Inilah yang kami harapkan kepada pemerintah kota Payakumbuh bersama DPRD, agar sama-sama menjaga kelangsungan hidup generasi muda, termasuk anak saya, “ujar Rosnawati.

Kepala Satpol PP dan Damkar kota Payakumbuh Devitra ketika dikonfirmasikan wartawan di Payakumbuh baru-baru ini, mengatakan, untuk menindak lanjuti warnet nakal sudah diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor: 01 tahun 2007 tentang Izin Jasa Usaha dan Retribusi Kepariwisataan serta Perwako Nomor: 32 Tahun 2010.

Kemudian, kata Devitra diperkuat dengan Peraturan Daerah Kota Payakumbuh Nomor: 12 tahun 2016 tentang Pencegahan, Penindakan dan Pemberantasan Penyakit Masyarakat atau maksiad.

Namun kenyataannya, Pemko Payakumbuh memang sering mendapatkan laporan dan keluhan dari masyarakat, utamanya para orang tua terkait adanya anak-anak mereka sebagian besar adalah para pelajar dan masih usia belajar, sulit untuk diatur agar mereka tidak lagi bermain di Warnet, Play Station (PS).

“Bahkan yang memiriskan lagi, para orang tua ada yang menyampaikan bahwa, anak-anak mereka sudah ada yang tidur di warnet karena sudah lupa dengan waktu karena keasyikan bermain game ongkos line, “ujar Devitra.

Walaupun untuk penegakan Perda dan Perwako tersebut anggota Satpol PP Payakumbuh sering melakukan razia ditempat-tempat usaha tersebut dan mendapatkan pengusaha membiarkan pelajar bermain di warnet dan play station, serta rumah billiar pada jam-jam sekolah. Bahkan sampai larut malam, namun penyakit masyarakat itu semakin marak terjadi di kota ini.

Untuk mengatasi keresahan masyarakat dan para orang tua itulah Walikota Payakumbuh Riza Falepi memandang perlu mengingatkan kembali kepada para pengusaha warnet, play station, rumah billiar dan salon kecantikan agar mentaati aturan main dalam pengelolaan usaha mereka melaui Surat Edaran Walikota Nomor: 300/96/POL-PP-PK/II/2018.

Diakui Devita bahwa Surat Edaran Walikota itu, telah disampaikan kepada para penguasa kepada para pengusaha rarnet, play station, rumah billiar dan salon kecantikan yang ada di Kota Payakumbuh, untuk mematuhi atau mentaati aturan tersebut.

“Apabila ada para kepada para pengusaha warnet, play station, rumah billiar dan salon kecantikan melalukan pelanggar aturan tersebut, maka mereka akan dikenakan sanksi administrasi  berupa surat teguran sampai pencabutan izin usaha dan penutupan aktivitas secara total.  Sedangkan sanksi pidana berupa denda maksimal Rp5 juta atau kurungan 3 bulan, “ sebut Devitra.

Devitra menyatakan, agar Surat Edaran Walikota itu berjalan efektif dan mampu mengatasi terjadinya pelanggaran Perda tersebut, maka peranan masyarakat, para orang tua, nimik mamak, dan tokoh masyarakat sangat diperlukan untuk sama-sama meningkatkan pengawasan kepada anak dan kemenakannya.

“Saat ini jumlah warnet yang memiliki izin di Kota Payakumbuh lebih kurang sebanyak 40 usaha, play station sebanyak 10 buah, rumah billiar sebanyak 12  dan salon kecantikan sebanyak 20 buah usaha, “jelas Devitra. (ada)

google+

linkedin