BIJAk ONLINE (Padang)---Presiden RI Joko Widodo menyampaikan sekitar 5 tahun belakangan ini, sering didengar berbagai analisis, bahwa media menstrim dan media massa akan terus digeser oleh media sosial dan media baru.

"Saya percaya di era lompatan kemajuan teknologi dan di era melimpahnya informasi dan misinformasi, justru pers makin diperlukan," kata Presiden RI, Joko Widodo ketika memberikan kata sambutan di acara puncak peringatan Hari Pers Nasional tahun 2018, di Danau Cimpago Pantai Padang,  Sumatera Barat, Jumat, 9 Februari 2018.

Menurut presiden, pers diperlukan untuk turut membangun narasi kebudayaan baru dan narasi peradaban baru. "Tetapi saya sering ingat kalau pas dicegat dorstop, 80-90 wartawan. Pertanyaanya tidak satu, banyak sekali dan pertanyaanya sulit-sulit semua karena ditembak langsung pada saat yang sering kita tidak siap," katanya. 

Kemudian presiden meminta satu saja wartawan maju ke depan dan majulah Yusrinur Raja Agam wartawan di Surabaya yang telah menjadi wartawan 40 tahun.

Jokowi mengatakan,dirinya sering didadak wartawan dan ditanya yang dirinya  belum siap. "Sebab itu saya minta Pak Yusri jadi Presiden, saya jadi wartawan, nanti saya tanya, mumpung pas hari pers," ujar Jokowi.

"Bapak kan punya 34 menteri. Menteri mana yang menurut Bapak anggap, paling penting," ujar Jokowi kepada Yusri.

Menurut Yusri menteri yang ngurusin wartawan yang dianggap penting?, Supaya informasi bisa diterima dari desa ke kota dan kota ke desa. 

"Blak blakan saja, saya sering sekali, kadang sebal kadang jengkel. Pertanyaan di awal enak-enak namun di tengah-tengah sulit. Media apa yang paling menyebalkan?," ujar Jokowi.

Yusri menjawab Rakyat Merdeka. "Karena, kalau Rakyat Merdeka, pemimpinnya susah. maksudnya, terlalu Merdeka semua apa aja dianggap merdeka, padahal ada aturan kemerdekaan itu sendiri," ujar Yusri.

Jokowi mengatakan Pak Presiden ini blak-blaknya. "Seperti perasaan saya, sama persis," ujar Jokowi sambil ketawa sembari menambahkan untuk keterusterangan ini saya berikan sepeda satu.

Selanjutnya, Joko Widodo menceritakan sedikit tahun 1983, ada anak muda naik bus 3 hari. Dari Jawa menuju Padang kemudian naik ke Solok, Solok Selatan, Sungai Penuh, kemudian menuju gunung kerinci melalui Solok Selatan. Saat itu, anak muda itu kagum akan rumah gadang yang ada di Solsel. Dan saat ini, anak muda tersebut yang ada di depan bapak ibu semuanya.

Kemudian presiden mencerita pengalamannya  waktu naik Kerinci lewat Solsel. "Kekaguman saya akan rumah tradisional yang sangat cantik dan indah. Dan sebagai bagian dari perawatan kegaguman itu, saya canangkan revitalsiasi total kawasan seribu rumah gadang di Solsel," ujar Jokowi.

"Tadi pagi saya sudah perintah Pak Menteri, tolong diselesaikan tahun ini.
Dan nantinya program ini merupakan prottype untuk rumah gadang di Sumbar dan seluruh tanah air," ujarnya.

Jokowi juga menceritakan tadi pagi. "Kami melihat sebuah desa yang sangat cantik, indah, yakni desa pariangan, di Kabupaten Tanah Datar. Ini saya tugaskan selain di Solok Selatan di desa yang tadi pagi kami lihat diselesaikan tahun ini sekalian," ujar Jokowi sembari menambahkan saya harap Insan Pers Indonesia dapat menajdi penyalur kebenaran, fakta, dan aspirasi masyarakat.(fradianto)

google+

linkedin